Polisi Diminta Tangkap Panglima Perang dan Tokoh Intelektual Konflik Nduga dan Puncak Jaya

Samuel Tabuni

JAYAPURA (PB) : Tokoh masyarakat asal Kabupaten Nduga, Papua, Samuel Tabuni meminta pihak kepolisian untuk bertindak cepat menyelesaikan konflik berkepanjangan yang tengah terjadi di dua kabupaten  yakni Kabupaten Nduga dan Puncak Jaya. Menurut Samuel, polisi harus menangkap panglima perang dan tokoh intelektual yang ada di belakang konflik ini. Sebab, masyarakat biasanya hanya mengikuti apa yang diperintahkan aktor atau dalangnya.

“Kami di Pegunungan memang masih demikian. Polisi harus menindak tegas dan tangkap panglima perang di Nduga dan ackor intelekttualnya untuk dibawa keluar dari daerah itu. Proses hukum bisa menyusul. Intinya tangkap dan bawa keluar dari daerah dulu, biar masyarakat tenang dan konflik bisa reda. Demikian halnya di Puncak Jaya. Kami sama saja. Bila perlu jika begini terus maka calon bupatinya wajib diamankan dulu,” ujar Samuel kepada Papua Bangkit, Senin, 3 Juli 2017.

Menurut dia, konflik yang terjadi di dua kabupaten ini telah berimbas pada banyak sektor kehidupan lainnya, mulai dari perekonomian, pendidikan dan tatanan sosial dalam masyarakat. Untuk itu, penyelesaian yang komprehensif wajib dilakukan oleh pemerintah daerah bersama aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama dan pemuda.

“Ini bukan perkara yang mudah. Konflik semisal di Nduga itu berpengaruh pada kami semua yang berasal dari Nduga dimanapun berada. Saya berharap masyarakat, tokoh dan adik-adik mahasiswa asal Nduga tak terpengaruh tetapi ikut terlibat menyuarakan perdamaian,” pesannya.

Menurut Samuel, kematangan demokrasi di Papua masih rendah. Sering terjadi konflik di jelang dan sesudah pesta demokrasi itu. Karena alasan itulah, saat ia kalah dalam Pilkada Serentak Jilid II di Kabupaten Nduga, ia tak mau mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi dan meminta pendukungnya menerima hasil yang telah diputuskan KPU. Karena itulah, Samuel, sosok yang muda dan cerdas ini dikenal  sebagai tokoh perdamaian di Kabupaten Nduga.

“Kepada para kandidat kepala daerah yang akan maju pada Pilkada Serentak Jilid III tahun 2018, ini jadi pelajaran berdemokrasi agar benar-benar matang secara emosi dan siap lahir batin jika kalah. Sebab setiap perlombaan pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Harus berbesar hati dan mendukung calon yang menang untuk sama-sama membangun daerah,” kata Samuel. (Marcel/PB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *