Ketersediaan Air yang Cukup Pengaruhi Produksi Beras Asal Merauke

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Papua Semuel Siriwa

JAYAPURA (PB) – Akibat musim kemarau panjang di tahun ini, membuat kondisi air di Kabupaten Merauke sudah hampir habis. Otomatis dampak kemarau ini berimbas pada irigasi yang mengaliri sawah di wilayah Selatan Papua itu.

Namun demikian, menurut Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Papua Semuel Siriwa, sekitar dua minggu lalu, Merauke baru panen padi.   “Sekarang ini lagi panen. Sebagian besar dua minggu lalu kami panen raya di tiga distrik yakni Muting, Ulilin, Eligobel dan Sota atau daerah yang sering disingkat dengan nama Mulia,” kata Semuel kepada media ini di Jayapura, Jumat (22/9/2017).

Saat ini kata Siriwa, kata kunci untuk kita di Papua khususnya bidang pertanian adalah bagaimana unit kerja yang lain, yang  terkait dengan bidang pertanian dalam hal penyediaan air. “Bagaimana air tersedia sepanjang tahun, itu yang pertama seperti di Merauke. Kalau dari Balai Wilayah Sungai bisa menyiapkan irigasi, tersedia air sepanjang tahun. Pastinya dengan luas lahan sawah 35 ribu hektar itu kita bisa tanami tiga kali dalam setahun akan bagus menjadi 100 ribu hektar. Tetapi kita sekarang hanya 56 ribu hektar per tahun. Tetapi kalau  Merauke bila ada keterpenuhan air sepanjang tahun, bisa tiga kali tanam,” paparnya.

Selain itu juga, kata Siriwa  harus ada ketersediaan pupuk. Untuk itu dirinya berharap perusahaan pupuk seperti, BMM, Petrokimia dan Pupuk Kaltim ataupun Pupuk Indonesia bisa menyiapkan pupuk bagi petani. Sebab jika menggunakan pupuk, potensi padi atau besar petani rata – rata bisa mencapai 7 – 8 ton/hektar. Sedangkanjika tidak menggunakan pupuk hanya bisa mencapai 3 ton saja. “Jadi bisa hilang 4 ton per hektarnya, kan kasihan padahal tenaga kerja yang sama dan juga sarana produksi yang sama,” ujarnya.

Sementara itu saat disinggung tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah pusat, bagaimana dengan produksi beras Merauke. Kata Siriwa kalau harga beras naik maka akan mempengaruhi semangat petani untuk mengusahakan menanam padi sebanyak mungkin.

Inilah yang ditunggu – tunggu. Sebab kalau harga di tingkat petani menjadi bagus, pasti petani bersemangat juga untuk menanam. Saat ini harga beras produksi Merauke, jika dibeli dari petani langsung rata-rata harga kisarannya mencapai Rp 6.000 hingga Rp 6.500/Kg. Kemudian dijual oleh mitra Bulog sebesar Rp 7.300/Kg. Sedangkan di pasaran harganya mencapai Rp 9.000/Kg. “Menurut banyak orang beras dari Merauke adalah beras yang paling murah untuk tingkat petani,” akunya. (YMF/Ed-Fri)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *