25 Tahun YAPUKEPA Berkarya Sosial di Papua

Polik Robertus Hawai milik YAPUKEKA yang melayani pasien secara gratis.

Bertempat di Aula Susteran Maranatha DSY Waena, Minggu, 15 Oktober 2017, Ketua Badan Pembina Yayasan Putri Kerahiman Papua (YAPUKEPA), drg. Aloysius Giyai, M.Kes melantik sejumlah pengurusnya.

Dalam kesempatan itu, drg. Aloysius Giyai, M.Kes yang juga saat ini menjabat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua mengatakan, mereka yang dilantik adalah orang yang beruntung karena diberikan ruang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sosial bagi kaum terlantar dan tidak mampu (anawim) di Papua.

“Sebagai Badan Pengurus Yayasan, saya menerima dengan iklas tugas dan kepercayaan sekaligus menyampaikan terima kasih kepada misionaris yang 25 tahun lalu setia mendampingi anak-anak terlantar melalui YAPUKEPA,” kata Aloysius.

Adapun sejumlah tokoh umat Katolik yang dilantik Ketua Badan Pembina YAPUKEPA, di antaranya: Yusan Yeblo, Herald Berhitu, S.Pd.MM, Thadius Muliait sebagai anggota badan pembina, Drs. Frans Mote, M.Si, Dra. Bernadetha Mahuse, Drs. Yohanis Maturbongs, M.Hum dan Luliana Sandjaya sebagai badan pengawas. Carlos Matuan, S.St.Pi, MM yang sejak tiga tahun lalu dipercayakan sebagai Ketua Pengurus YAPUKEPA kembali dipercayakan oleh badan Pembina karena selalu aktif memperjuangkan YAPUKEPA.

Ketua Badan Pengurus YAPUKEPA drg. Aloysius Giyai, M.Kes saat melantik para pengurus yang baru, Minggu, 15 Oktober 2017.

Sejumlah anggota pengurus yang baru di antaranya: Laurentius H. Maturbongs, SP, M.Sc, Rita Thang, Peter Tukan, Thomas Darmadi, Stanis Kasipdana, Amd. Kom. Untuk mengurus keuangan melibatkan Adriana Banne Ribo, SE, dan Yudith Pricilia. Sedangkan bidang-bidang pendampingan karya sosial diantaranya Laurens Wantik, S.Pd, M.Pdsi, Elpius Hugi, Allo Yopeng, Spey Bidana, Alfonsa Wayab, dr. Anton  Mote, Theodorus Kosay, Hengky Kosay, Wily Irianto Sunur, Julio Pereira, Hendrik, Fernandez, dan Cyprianus Yongky.

Di saat yang sama, Ketua Badan Pengurus YAPUKEPA Carlos Matuan melantik Direktur Eksekutif YAPUKEPA. Sebab selama 25 tahun, YAPUKEPA berdiri tanpa direktur. Florry Koban yang saat ini ketua umum Ikatan Alumni Teruna Bakti Jayapura dipercayakan sebagai direktur Eksekutif untuk melanjutkan semangat mantan kepala sekolah SPG Teruna Bakti Alm. Sr. Maicen Warson, DSY.

Di akhir acara pelantikan dr. Aloysius Giyai, M. Kes menyampaikan penghargaan kepada Polik Robertus yang sedang bersemangat melayani orang sakit secara gratis. Aloysius juga memberikan kabar gembira bahwa Pemerintah Provinsi Papua akan membantu operasional Polik Robertus pada tahun 2018 sebesar Rp 400 juta.

Ketua Badan Pengurus YAPUKEPA drg. Aloysius Giyai, M.Kes saat berkunjung ke Polik Robertus Hawai, September 2017 lalu.

“Kita siap bantu. Kita mendorong semua orang tanpa terkecuali agar bahu membahu membantu anak-anak terlantar, kehilangan perhatian, orang sakit, buta aksara, korban KDRT dan anak-anak sekolah yang saat ini sedang ditangani YAPUKEPA.,” kata mantan Direktur RSUD Abepura.

Hingga saat ini, semua orang yang sedang didampingi oleh YAPUKEPA selalu mempunyai jam doa khusus untuk para penyumbang, baik doa pribadi maupun doa secara bersama-sama.

 

Sejarah lahirnya YAPUKEPA

Menurut sejarah, yayasan ini berawal seorang Biarawati dari tarekat Dina Santo Yosep (DSY) bernama Sr. Mariecen Warson, DSY, orang Belgia yang juga mantan Kepala Sekolah SPG Teruna Bakti Waena. Sejak tahun 1991, Sr. Mariecen ingin membaktikan sisa hidupnya untuk anak-anak yatim piatu di sekitar Sentani. Ia memulainya dengan menyewa Sebuah gubuk kecil di Hawai untuk merawat dua orang anak yang menderita sakit TBC. Dengan sinar matanya yang penuh kasih, Sr. Mariecen menerima keluh kesah anak-anak yang datang kepadanya.

Sr. Mariecen Wosan, DSY

Waktu berjalan, hingga dalam setahun, sang biarawati Katolik ini menampung 39 anak. Melihat kondisi ini, tergeraklah hati dua orang umat katolik dari Argapura. Mereka adalah Andreas Salombe dan Suhardi, yang datang membantu Sr. Mariecen menyekat ruangan-ruangan karena jumlah anak semakin banyak. Banyak keluarga bersimpati dari berbagai kalangan untuk datang membantu Sr. Mariecen dengan membawa beras, baju layak pakai dan alat tulis menulis. Beberapa orang yang datang memberikan saran agar kegiatan sosial yang dilakukan sang suster perlu diberi payung hukum agar mendapat bantuan dari pemerintah setempat.

Pastor Nico Syukur Dister, OFM

Oleh karena itu, Sr. Mariecen menghubungi berbagai umat agar terlibat secara organisasi. Pater Nico Syukur Dister, OFM dan ibu Yusan Yeblo banyak terlibat sejak pendirian yayasan, yang resmi berdiri pada 28 Maret 1992 dengan nama Yayasan Putri Kerahiman Papua (YAPUKEPA). Adapun unit karya pelayaannya yakni penyantunan anak yatim dan piatu, pendampingan ibu-ibu janda cerai dan ekonomi lemah, dan pelayanan kesehatan. Ketiga karya karitatif ini dilakukan secara bersama-sama dan saling mendukung satu sama lain.

Usia para pendiri sudah semakin tua, semenjak Sr. Maricen Warson, DSY meninggal pada tanggal 2 Maret 1998 di Belanda. Sementara, Pastor Nico Syukur Diester, OFM selalu melakukan komunikasi dengan berbagai donatur di dalam negeri maupun di luar negeri. Pastor Nico, seorang Profesor yang dikukuhkan di Papua ini mempunyai saudara dari Belanda yang sangat berbaik hati dan selalu membantu kesulitan anak-anak di YAPUKEPA.

Pastor Yohanes Kore, OFM saat mengajar anak-anak didiknya di Sekolah Satu Atap Antonius Padua, Sentani.

Saat ini usia Pastor Nico sudah semakin senja 78 tahun. Seorang Profesor yang sangat rendah hati dan mengganggap semua orang baik anak kecil maupun orang tua sebagai sahabatnya, mulai telah memilih berbagai sahabat untuk meneruskan semangat YAPUKEPA.  Bahkan, melalui sahabatnya Pastor Yohanes Kore, OFM, ia pun telah mendirikan pendidikan satu atap berpola asrama di Sentani dengan nama Kolese Antonius Padua untuk mendukung anak-anak Panti Asuhan Polomo dan Panti Asuhan Putri Kerahiman Hawai.

Pendiri, Pembina, Pengawas YAPUKEPA bersama Pimpinan Konggregasi DSY bersama-sama memikirkan Nasib dan kemajuan Panti Asuhan Putri Kerahiman Hawai Sentani.

Sejak tiga tahun lalu, beberapa tokoh umat katolik yang sebagian besar pernah dididik oleh misionaris Katolik mulai bekerja sama dengan Pastor Nico, mengingat usia sang biarawan Katolik ini semakin tua dan sering sakit-sakitan. (FloK/Ed-Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *