Ini Solusi BKKBN Untuk Asmat

Plt Kepala BKKBN Sigit Priohutomo didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Papua Sarles Brabar saat mengunjungi sejumlah anak korban gizi buruk yang masih dirawat di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Rabu, 21/02/2018).

JAYAPURA (PB)—Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan membentuk tujuh Kampung Keluarga Berencana (KB) di tiap distrik di Kabupaten Asmat.

“Di Asmat belum ada, dalam waktu dekat kita akan bentuk. Di Asmat ada tujuh distrik yang akan dibentuk, satu distrik satu Kampung KB, ini jadi salah satu solusi cegah KLB campak dan gizi buruk seperti yang terjadi kali lalu,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKKBN Sigit Priohutomo di Timika, Jumat (23/02/2018) sebagaimana rilis yang diterima redaksi Papua Bangkit dari Humas Perwakilan BKKBN Provinsi Papua.

Jumlah Kampung KB yang ada di Provinsi Papua saat ini sebanyak 258 Kampung KB yang tersebar di 28 Kabupaten. Sigit menjelaskan ada enam kabupaten yang termasuk dalam kategori dengan angka kekerdilan pada anak yang tinggi di Papua.

Plt Kepala BKKBN Sigit Priohutomo didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Papua Sarles Brabar berdialog dengan petugas kesehatan di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Rabu, 21/02/2018).

Melalui Kampung KB tersebut diharapkan akan menjadi pusat integrasi berbagai program pemerintah mulai dari peningkatan kesehatan, pendidikan, program padat karya tunai berbasis dana desa, penyediaan akses air bersih dan sanitasi, dan ketahanan pangan.

Sigit menjelaskan persoalan terkait kependudukan dan KB di Asmat ialah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu cukup banyak dengan jarak kelahiran yang rapat.

“Persoalannya bukan cuma banyak anak, tapi juga rapatnya jarak kelahiran. Bayangkan 25 tahun punya anak delapan, yang hidup cuma enam. Setiap tahun berarti hamil dan melahirkan,” kata Sigit.

Plt Kepala BKKBN Sigit Priohutomo memberi keterangan kepada wartawan usai kunjungan di RSUD Agats.

Sementara itu Petugas Lapangan KB (PLKB) yang dimiliki untuk Kabupaten Asmat baru 12 orang. Seluruh PLKB tersebut memiliki tugas untuk memberikan penyuluhan dan edukasi tentang KB dan kesehatan keluarga di 23 distrik di Asmat.

Selain itu petugas lapangan juga memiliki kendala geografis di mana wilayah tiap distrik Kabupaten Asmat hanya terhubung dengan sungai-sungai.

Pada Rabu, 21/02/2018), Sigit melakukan kunjungan ke RSUD Agats dalam rangka penanganan masalah campak dan gizi buruk yang sudah dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak di Kabupaten Asmat. Turut mendampingi, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Papua, Sarles Brabar, SE.M.Si.

“Kondisi Asmat sudah mulai pulih, kita lihat sudah beberapa anak sudah kembali pulang kerumahnya, walau disini masih ada beberapa yang butuh penanganan”, terang Sigit.

Menempuh perjalanan dengan speed boat.

Menurut Sigit, permasalahan anak dengan gizi buruk di Asmat bermula pada kondisi kesehatan ibu yang tidak baik saat sebelum melahirkan. Jumlah anak di masyarakat setempat sangat tinggi dan jarak antar kelahiran terlalu rapat. Para ibu belum memperhatikan jumlah dan jarak kelahiran serta gizi yang diberikan bagi sang bayi.

“Sehingga terkadang bayi dilahirkan dalam keadaan kurang gizi, karena tidak mendapatkan ASI secara eksklusif selama dua tahun. Saya berpesan kepada orang tua pasien untuk membatasi jumlah anak dan menjaga jarak antar kelahiran, agar melahirkan anak yang sehat dan berkualitas,” kata Sigit.

Dalam pertemuan kunjungan tersebut Plt. Kepala BKKBN juga menyerahkan Meja Ginekologi (Obgyn Bed), Alat dan Obat Kontrasepsi (Alokon) beserta Lemari Alokon kepada Direktur RSUD Agats. (Gusty Masan Raya/Humas BKKBN Papua)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *