Sungguh Haru, Dari Ruang Isolasi Perawat di RSUD Mimika Ini Ucapkan  Ulang Tahun Via Facebook Kepada Putrinya

Karlina Kasim dalam potongan video mengucapkan selamat ulang tahun kepada putrinya sekaligus memohon maaf tak bisa bertemu langsung karena sedang diisolasi. (Sumber Foto: facebook)

JAYAPURA (PB.COM)—Pejuangan tenaga medis menolong pasien yang terpapar virus corona atau Covid-19 selalu menyisakan kenangan haru. Kali ini, di Papua, tepatnya di negeri tambang emas Mimika, media sosial facebook dihebohkan dengan sebuah kabar haru.

Adalah seorang perawat di RSUD Mimika bernama Karlina Kasim. Melalui akun  facebooknya, ia dengan berpakaian hazmat lengkap mirip astronot, mengunggah sebuah video ucapan selamat ulang tahun untuk puteri sulungnya, Mishadina Naila Askar yang genap berusia 12 tahun pada  Kamis, 09 April 2020.

Ucapan ulang tahun Karlina kepada putrinya.

Di caption (keterangan) panjang videonya, terbaca bahwa Karlina adalah seorang perawat yang sejak 4 April 2020 bertugas di ruang isolasi khusus pasien Covid-19 di RSUD Mimika.

Sejak bertugas di ruang isolasi, Karlina memutuskan tak lagi pulang ke rumah. Sebab sesuai aturan, mereka harus dikarantina. Sementara suaminya adalah anggota Polri yang selalu patroli mengimbau warga tetap di rumah. Dalam video itu, sang suami dan teman-teman polisinya juga menyampaikan ucapan ulang tahun yang sama kepada putri mereka itu.

Kondisi suami istri yang sedang bertugas melawan virus ini, membuat Karlina memutuskan untuk menitip sementara waktu, kedua buah hatinya yang berusia 12 dan 3 tahun di rumah keluarga.

“Sekarang anak-anakku dititip di tantenya. Saya menginap di rumah sakit. Suami patroli terus. Kami berempat benar-benar terpisah,” katanya.

Ucapan ulang tahun dari suami Karlina kepada putri mereka.

Semua kita harus tahu, mengapa Karlina tak bisa pulang, walau hanya untuk menyalami dan memeluk sang putri sulungnya yang merayakan momen bahagianya itu semenit dua.

“Karena saya tidak boleh kontak dengan keluarga dan saya memilih untuk tinggal di rumah sakit. Saya memilih tidak dibesuk. Risiko sekali kalau keluarga mau jenguk saya,” tulisnya.

Di status facebook itu, Karlina menjelaskan, selain penanganan medis, para dokter dan tenaga medis juga membantu para pasien agar tetap kuat melawan ganasnya covid-19. Kepada para tenaga medis, para pasien yang sebagian ibu-ibu ini biasa cerita, sudah rindu kumpul bersama keluarga dan ngobrol dengan tetangga.

“Rata-rata pasien ibu-ibu bilang rindu ke pasar, rindu memasak untuk keluarga, rindu keluarga dan tetangga. Kami hanya kasih semangat dan bilang pasti bisa sembuh dan bisa pulang. Semangat ya bu. Ibu sehat kami bangga dan bahagia. Mereka bilang Tuhan Yesus memberkati,” cerita Karlina.

Karlina Kasim dengan pakaian hazmat di ruang isolasi RSUD Mimika.

Karlina mengaku, selama dibalut pakaian hazmat ketat, ia sempat mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen. Penglihatannya jadi gelap dan keringat dingin. Untung rekan-rekannya cepat membantu.

“Saya bahagia dengan teman-teman di ruang isolasi, saling dukung dan membantu. Saya bahagia sekali punya tim seperti mereka. Saya mencintai pekerjaan ini,” katanya.

Berjibaku dan berhadap-hadapan dengan resiko jadi korban penularan covid-19, Karlina hanya minta hal sederhana: warga tetap berada di dalam  rumah.  Berada di dalam rumah menjadi cara paling efektif memutus rantai penularan Covid-19.

“Tidak ada lain, stay at home tinggal di rumah. Bantu kami putuskan rantai penularan covid-19 ini. Tolong jangan keluar-keluar, virus ini tidak main-main,” pesannya.

Kabupaten Mimika, tempat Karlina bertugas adalah satu dari empat daerah di Papua yang masuk zona merah penyebaran Covid, selain Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Merauke. Hingga Rabu (08/04/2020), tercatat sudah 13 orang yang dinyatakan positif Covid, dimana 10 pasien saat ini sedang dirawat dan 3 lainnya meninggal.

Semua kita tahu. Dalam perang melawan penularan Covid-19, para tenaga medis sejatinya ada di pertahanan terakhir. Garda paling depan dalam perang pandemi ini adalah warga sendiri: kita, Anda dan saya. Tugas kita sederhana, cukup berada di dalam rumah, keluar hanya untuk urusan darurat.

Para tenaga medis ini juga seperti pasien yang sementara diisolasi. Mereka rindu berkumpul dengan keluarga. Banyak dari mereka sudah terpapar, jadi korban dan meninggal karena dedikasinya menjalankan tugas merawat pasien. Mari kita bantu mereka dengan tetap berada di rumah, setidaknya bisa mengurangi jumlah pasien yang harus mereka tangani. (Burhan/Gusty)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *