Varian Delta Diduga Sudah Masuk Papua, Masyarakat Harus Makin Disiplin Taat Prokes

JAYAPURA (PB.COM)—Ancaman virus Covid-19 di Provinsi Papua semakin tinggi ditandai dengan naiknya angka kasus baru dan tingginya kematian dua pekan terakhir. Bahkan, diduga varian Delta yaitu jenis virus corona yang paling berbahaya telah masuk ke Papua dan tengah diuji di laboratorium Litbangkes Papua.

Menyikapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Papua Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes meminta masyarakat Papua untuk lebij  disiplin lagi mematuhi protokol kesehatan (3M) yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Kepala Dinas Kesehatan Papua Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes (Sumber: ceposonline.com)

 

“Menurut hasil pemeriksaan dari pasien Covid tahun ini di Papua, angka Cycle Thresholds value sebagai indikator keparahan penyakit rata-rata di bawah angka 15. Dulu, tahun lalu rata-rata Ct velue pasien Covid Papua di atas 15. Artinya, tingkat keparahan dan kecepatan penularannya ini tinggi, dan diduga inilah varian Delta sudah masuk ke Papua. Tetapi kita masih tunggu hasil uji lab dari Litbangkes Papua,” kata Robby Kayame kepada papuabangkit.com di ruang kerjanya, Rabu (14/07/2021).

Menurut Robby, kondisi rumah sakit di Jayapura yang sangat terbatas saat ini, mulai keawalahan menerima pasien dan overload. Hal ini disebabkan tingginya lonjakan pasien yang terjadi dua minggu belakangan ini. Sementara angka kematian juga terus meningkat.

“Kami sudah rapat, siapkan skenario jika kondisi makin parah dan rumah sakit overload, kita akan buka isolasi terpusat selain LPMP Kotaraja. Di antaranya Balatkes Padang Bulan dan mungkin juga bisa pakai hotel untuk kasus pasien ringan dan sedang tanpa komorbid. Sementara yang berat di rumah sakit,” tuturnya.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai ini juga meminta agar masyarakat dengan kesadaran tinggi bisa mengikuti program vaksinasi nasional yang digelar secara gratis. Sebab vaksin ini bertujuan meningkatkan kekebalan tubuh untuk menangkal dan melawan virus asal Wuhan ini.

“Catatan kita, hampir semua kasus baru di Papua rata-rata itu pasiennya adalah orang yang belum menerima vaksin. Sementara, ada orang yang sudah vaksin dua kali tapi masih kena Covid, tetapi karena vaksin itu, gejalah yang dialaminya ringan. Jadi dampak vaksin ini terbukti bagus. Tetapi kami dari Dinas Kesehatan hanya menawarkan, tidak memaksa,” kata Robby.

Satgas Percepatan Vaksinasi

Robby mengatakan guna mendukung PON XX Papua yang digelar pada Oktober 2021 mendatang, Dinas Kesehatan di akhir Juli akan menurunkan tim Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Vaksin, secara khusus, ke empat klasten penyelenggaraan PON yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Mimika, Merauke dan Keerom.

“Kami akan kumpulkan relawan kami, kami training cepat dan kami siap turunkan. Jadi sesuai intruksi presiden, kami sudah diperintahkan Gubernur Papua untuk percepat vaksinasi di 4 klaster PON itu. Selain itu, kami di Dinkes juga siap akan turun untuk lakukan penyemprotan semua venue,” katanya.

Ia juga menegaskan agar masyarakat di Provinsi Papua tidak mudah percaya terhadap informasi sesat atau hoax di media sosial seputar penanganan dan pencegahan Covid yang membuat mereka menjadi antipati atau malas tahu. Sebab virus ini nyata dan siap mengancam siapapun.

“Masyarakat harus sadar bahwa kesehatan adalah harta paling berharga. Kesehatan itu ditentukan oleh diri sendiri, tidak bisa diwakilkan. Untuk itu, semua masyarakat harus patut pada protokol kesehatan. Stop keliaran kemana-mana dan jadi penyebar virus ke orang lain,” tegasnya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua per 13 Juli 2021, jumlah angka kumulatif orang yang terpapar Covid di Bumi Cenderawasih mencapai 27.679 orang, dimana 23.255 orang (84 %) orang sudah dinyatakan sembuh, 3.869 orang (14 %) sedang dalam perawatan, dan 555 orang atau 2 persen meninggal dunia. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *