Tahbiskan Gereja GIDI Jemaat Eden, Presiden GIDI Minta Jemaat Bangun Komunitas

Gubernur Papua Lukas Enembe didampingi Presiden GIDI Pdt Dorman Wandikbo, Gembala Jemaat Eden Pdt. Reinhard Ohee dan Ketua Diaken Jemaat Eden Yarius Balingga, menandatangani prasasti peresmian Gereja GIDI Jemaat Eden, Sabtu (20/11/2021).

JAYAPURA (PB.COM) – Gereja Injili di Indonesia Jemaat Eden Entrop, Jayapura, ditahbiskan Jumat (29/11/2021) ditandai dengan penandatangan prasasti dan pengguntingan pita oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP.MH dan Presiden GIDI, Pdt. Dorman Wandikbo.

Ibadah syukuran pentahbisan Gereja GIDI Jemaat Eden ini, dihadiri ribuan jemaat GIDI dan jemaat dari berbagai denominasi gereja di Tanah Papua. Puji-pujian sebagai ungkapan sukacita jemaat dinyanyikan dengan penuh semangat, sebelum ibadah syukur dimulai.

Pdt. Dorman Wandikbo berkotbah tentang membangun di atas batu karang yang terambil dari Kitab Matius 16: 16-18. Sesuai dengan tema syukuran dan pentahbisan gereja, Dorman menekankan tiga poin penting dalam jemaat yang harus menjadi perhatian.

Pertama adalah membangun komunitas keluarga. Ia menjelaskan, keluarga merupakan batu karang yang kuat, keluarga adalah gereja yang kuat, keluarga merupakan pemerintah setempat, keluarga adalah fondasi yang kuat, keluarga merupakan gereja yang sebenarnya.

Suasana ibadah pentahbisan Gereja GIDI Jemaat Eden.

“Satu hal penting dalam membangun jemaat di atas batu karang yaitu keluarga. Terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Cara membangun komunitas adalah komunikasi antara suami, istri dan anak-anak. Anak sangat penting. Karena itu, didik mereka untuk menjadi mandiri. Gereja bukan gedung, gereja adalah keluarga. Didiklah anak jadi batu karang yang teguh,” pesan Dorman.

Hal kedua adalah membangun komunitas gereja. Di dalammnya ada komunitas orangtua untuk pemulihan iman, anak-anak dididik untuk takut akan Tuhan. Kata Dorman, jika Orang Papua meninggalkan gereja, otomatis akan mati. Karena sejarah gereja di Papua berbeda dengan daerah lain. “Ottow dan Geisler saat datang di Papua, mereka bernubuat bahwa alam, tanah dan orang Papua dipersembahkan untuk Tuhan sehingga orang Papua akan maju terus,” ungkapnya.

Menurut Dorman, komunitas di dalam gereja adalah mencetak pemimpin-pemimpin yang takut akan Tuhan. Gereja membangun karakter orang-orang yang siap pakai. Gereja adalah tempat mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan.

Hamba-Hamba Tuhan dari berbagai denominasi gereja di Tanah Papua turut mendoakan Gereja GIDI Eden dan mendoakan Gubernur Papua Lukas Enembe.

Ketiga adalah membangun komunitas Papua. “Komunitas Papua sangat penting untuk membangun tanah kita sendiri. Jemaat  GIDI Eden dibangun di atas karang. Siapa pun akan datang,” lanjutnya.

Setelah berkotbah, Hamba-hamba Tuhan dari semua denominasi maju ke depan mimbar, dan bersama-sama dengan Presiden GIDI, mendoakan Gereja GIDI Jemaat Eden dan mendoakan Gubernur Papua Lukas Enembe.

Selanjutnya Ketua Panitia Pembangunan dan Pentahbisan Gereja GIDI Jemaat Eden, Yarius Balingga, SE, melaporkan perjalanan tujuh tahun membangun Gereja Eden, termasuk perjalanan panjang memperjuangkan status tanah gereja status tanah yang diklaim kepemilikannya oleh pihak CV. Bintang Mas.

Ketua Panitia Pembangunan Gereja GIDI Jemaat Eden, Yarius Balingga, SE.

“Perjalanan waktu berliku-liku, suka duka tantangan persoalan, baik status tanah di sini maupun pembangunan, tetapi waktu Tuhan itu indah. Hari ini semua datang, hamba Tuhan datang berdoa, mensyukuri pentahbisan gereja ini. kami panitia dan jemaat hanya mengucap syukur dan berterima kasih, atas waktu yang luar biasa ini,” ungkap Yarius.

Pembangunan gereja sejak skhir tahun 2015 sampai akhir tahun 2021,  sumber dana untuk pembangunan fisik dari tahun 2016 hingga peresmian tahun 2021 adalah sebesar Rp 11,230 miliar. Semua dana ini terkumpul dari donator yang merupakan kader-kader GIDI, jemaat, pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah daerah.

Sejarah Berdirinya Gereja Eden

Selanjutnya ibu Yulce W. Enembe menceritakan sejarah berdirinya Gereja Eden. Dulu, saat Lukas Enembe masih menjabat Wakil Bupati Puncak Jaya, pada tahun 2000-an, Ibu Yulce dan Lukas sering turun ke Jayapura dan tinggal di rumah Santarosa. Pada hari Minggu, pergi ibadah seperti jemaat lain. Dan di saat pergi ibadah, mereka selalu mendapat proposal (permohonan bantuan) baik dari masyarakat maupun dari gereja. Hal ini berlangsung terus tiap kali turun Jayapura.

Ibu Yulce W. Enembe

“Jadi di mana kita masuk gereja, selalu dapat proposal. Sedangkan pak Lukas kegiatan bukan di kota tetapi di daerah,” cerita ibu Yulce. Minggu berikutnya, saat ibadah Minggu, mereka menanyakan proposal itu. Proposal pun semakin menumpuk banyak. Hal ini menjadi beban tersendiri. Akhirnya, mereka tidak lagi beribadah, saat ada kesempatan turun Jayapura.

Pada suatu ketika, Pdt. Lipiyus Biniluk bertanya, “Kamu sembayang di mana?”, “Kami katakan bahwa kami mengalami kesulitan seperti ini (menceritakan soal proposal) sehingga kita akhirnya sembayang di rumah,” kenang ibu Yulce.

Mendengar curhatan hati Ibu Yulce, Pdt. Lipiyus memberi saran. Dari pada di rumah saja, lebih baik ibadah di rumah dan Pdt. Lipiyus datang memimpin ibadah di rumah. Setelah ibadah di rumah pelayanan semakin berjalan. pejabat lain juga mulai ikut ibadah, termasuk Ketua MRP, Matius Murib.

Dalam perjalanan, makin banyak yang datang beribadah. Akhirnya mereka  inisiatif bikin tenda di luar rumah. Dari ibadah di tenda ini, makin banyak lagi jemaat yang datang beribadah. Akhirnya pindah tempat ibadah di Hotel Sahid selama 3 tahun dan kemudian mendapatkan lokasi tanah di Bukit Sian Soor, tempat berdirinya Gereja Eden saat ini.

Kuasa Hukum menyerahkan dokumen kepemilikan sah tanah berdirinya Gereja GIDI Jemaat Eden.

Setelah menceritakan sejarah Gereja Eden, Kuasa Hukum Junaedy, SH menyerahkan dokumen dari Mahkamah Agung, yang isinya menyatakan bahwa tanah yang di atasnya berdiri Gereja Eden adalah sah milik Gereja Injili di Indonesia. Dokumen ini diterima Gembala Jemaat Eden Pdt. Reinhard Ohee dan Ketua Diaken Jemaat Eden, Yarius Balingga.

Gubernur Lukas Enembe, pada kesempatan itu turut mengungkapkan rasa syukurnya karena hanya kemurahan Tuhan, Gereja Eden dapat berdiri, setelah melalui perjalanan panjang. Ia juga berterima kasih kepada masyarakat Papua karena mendoakan kesehatannya sehingga ia bisa pulih.“Saya bersyukur Tuhan baik. Berkat doa-doa orang Papua saya bisa hidup. Allah bela orang Papua,” kata Lukas.

Gubernur Papua Lukas Enembe, SIP.MH

Ibadah syukur dan pentahbisan gereja ini turut dihadiri Ketua DPR Papua Jhony Banua, Asisten I Bidang Pemerintahan Sekda Provinsi Papua Doren Wakerkwa, SH, Bupati Yahukimo Didimus Yahuli, Bupati Mimika Eltinus Omaleng, mantan Bupati Yahukimo Ones Pahabol, dan kader-kader GIDI yang menjadi pejabat-pejabat daerah di Papua. Ibadah diakhiri dengan makan bersama, di mana 1.006 ekor babi bakar batu beserta sayuran dan ubi-ubian dihidangkan jemaat Eden. (Frida Adriana)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *