BBM di Tolikara Langka, Harga Bensin Tembus Rp 50-100 Ribu Per Liter  

Para tukang ojek dan masyarakat sedang berkumpul di salah satu pangkalan ojek di Karubaga, Tolikara, samping Gereja GIDI Yerusalem, Kamis, 30 Desember 2021. Mereka resah dengan melonjaknya harga BBM akhir. (Fot0: Dewa)

 

KARUBAGA (PB.COM)—Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) tengah menimpa Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua. Di ibukota Karubaga, harga BBM jenis pertalite maupun premium menembus Rp 50 ribu per liter selama sebulan terakhir. Sementara harga solar mencapai Rp Rp 40 ribu per liter.

Harga ini tentu berbeda dengan di distrik-distrik nun jauh dari Karubaga. Bensin dan solar meroket harganya hingga Rp 100 ribu per liter.

Krisis BBM itu terjadi karena pasokan bensin dan solar bersubsidi dari Pemerintah Pusat yang biasa didistribusikan Pertamina dari Timika terhenti. Sementara pasokan BBM dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya pun berkurang. Sebab di Wamena pun, sejak Desember harga pertalite menembus angka Rp 50 ribu per liter.

Ketua Persatuan Abag Ojek Kabupaten Tolikara Papua Christian Kogoya meminta kepada Pemerintah Pusat, terutama Presiden Joko Widodo untuk mengingatkan Pertamina agar segera mengatasi kelangkaan BBM di Tolikara dan kembali kepada  komitmennya untuk mewujudkan BBM Satu Harga di seluruh Indonesia.

Ketua Persatuan Abang Ojek Kabupaten Tolikara, Christian Kogoya

“Banyak tukang ojek enggan untuk mengisi bensin di kendaraan sampai penuh karena kami berharap harga akan turun. Tapi ini sudah sebulan lebih tidak turun-turun. Pendapatan kami setiap hari menurun jauh. Penumpang sepi akibat mahalnya  ongkos angkutan,” kata Christian kepada awak media, Minggu (02/01/2022).

Menurutnya, menjelang Natal Desember 2021, masyarakat Tolikara dari kampung-kampung yang biasanya turun ke Kota Karubaga untuk membeli kebutuhan Natal, terpaksa harus menyewa ojek dengan tarif dua kali lebih mahal dari biasanya. Hal ini tentu saja tidak hanya menyulitkan masyarakat di distrik terpencil sebagai pelanggan ojek, tetapi juga menurunkan pendapatan para tukang ojek sendiri karena sepi penumpang.

“Distrik Goyage misalnya, ini jaraknya hanya sekitar 15 kilometer saja dari Karubaga, tapi karena bensinnya mahal, ongkosnya sampai Rp 400 ribu. Padahal sebelumnya Rp 200 ribu. Apalagi di distrik yang lebih jauh. Ini membuat masyarakat dari kampung sulit ke kota untuk menjual hasil pertanian dan membeli kebutuhan rumah tangga,” tutur Chris

Galih, salah seorang perantau asal Jawa yang berprofesi sebagai tukang ojek di Karubaga mengatakan, naiknya harga BBM membuat ia merasa kasihan kepada masyarakat kecil yang biasa menjadi pelanggannya.

Galih, salah seorang tukang ojek di Karubaga, Tolikara.

“Di satu sisi, saya siap antar layani masyarakat yang biasa ojek, tetapi harga bensin yang naik dua kali lipat terpaksa kami naikkan juga tarif ojek biar kami tak rugi. Kami mohon Bapak Presiden Jokowi segera mengambil langkah cepat mengatasi kesulitan kami ini,” ujar Galih.

Memang sudah sejak 2017, Jokowi mengeluarkan kebijakan BBM Satu Harga bagi masyarakat Indonesia di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), termasuk di Papua. Sudah sejak saat itu pula, BBM Satu Harga telah memberikan akses energi dengan harga yang sama dengan di kota sehingga masyarakat tidak lagi kuatir perlu membeli bahan bakar minyak (BBM).

Sayangnya, kebijakan ini tak bertahan lama di Papua. Di Karubaga, misalnya, harga premium, pertalite maupun solar per litar normal dua tahun terakhir ialah Rp 25 ribu. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap harga tarif angkutan dan barang-barang kebutuhan seperti sembako yang dijual. (Dewa/GMR)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *