Ibadah Syukur Hari Ulang Tahun ke-10 GIDI Jemaat Edenm Pdt Lipiyus Biniluk mendoakan kader-kader Jemaat Eden.

JAYAPURA (PB.COM) – Pendeta Lipiyus Biniluk, S.Th menyerukan kepada jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Eden Entrop agar mengandalkan Tuhan, menjadikan doa dan firman Tuhan sebagai pola hidup sehari-hari.

Seruan ini disampaikan dalam kotbah di ibadah syukur perayaaan hari ulang tahun (HUT) ke-10 GIDI Jemaat Eden Klasis Port Numbay, Kamis (20/22/2025) sore.  Meskipun Kota Jayapura diguyur hujan selama ibadah berlangsung, ibadah berlangsung penuh hikmat, diiringi persembahan puji-pujian untuk Tuhan

Di bawah tema, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan” sesuai kutipan Firman Tuhan Yeremia 17:7-8, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Pdt. Lipiyus membahas tentang perbedaan orang yang hidup mengandalkan Tuhan dan orang yang hidup memanfaatkan Tuhan. Menurutnya, tantangan terberat di tahun 2026 nanti adalah krisis ekonomi. Hanya orang-orang yang hidup sesuai ajaran Alkitab yang bisa bertahan. “Hanya orang-orang hidup mengandalkan Tuhan yang dapat menikmati berkat Tuhan,” ucapnya.

Ia menjelaskan ciri-ciri orang yang hidup mengandalkan Tuhan. Pertama hidup dalam Firman. Mengutip Mazmur 1:2 “Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” ia mengatakan, Firman Tuhan berbicara tentang salib. “Kata Yesus, orang yang ikut Aku, memikul salib.”

Ia mencontohkan telah hidup Daniel di dalam cerita Alkitab yang hidup kudus, hidup mengandalkan Tuhan. Daniel diberkati secara intelektual karena hidup dalam doa dan firman.

Ia menekankan pentingnya Firman Tuhan menjadi pedoman hidup, sesuai Kitab Yosua 1:8 “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”

“Lakukan Firman Allah itu penting sekali” serunya kepada jemaat dan tamu undangan yang hadir, termasuk tamu dari beberapa denominasi gereja di Kota Jayapura hingga Sentani.

Mantan Presiden GIDI ini mengatakan, Papua penting hadir untuk dunia. Tetapi kalau Papua tidak mengandalkan Tuhan, Papua akan hilang dan direbut oleh orang lain. “Alkitab adalah Yesus sendiri. Selagi masih ada waktu, berikan untuk Tuhan. Lakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Ciri kedua orang yang mengandalkan Tuhan adalah hidup dalam doa. “Bangunlah rumah doa untuk segala bangsa. Doa yang berasal dari hati, disampaikan dengan tulus iklas,  meskipun dengan kata-kata yang terbatas,  Tuhan tahu,” sambungnya.

“Ciri kas orang yang mengandalkan Tuhan adalah orang yang setia berdoa. Doa menjadi pola hidup dan jadi makanan hidup. Berdoa dan berpuasa, belajar dari Yesus. Matius 4 ayat 2 “Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.”

Ia juga menguraikan ciri orang yang hidupnya memanfaatkan Tuhan untuk menerima berkat. Ia mencontohkan orang yang hidupnya memanfaatkan Tuhan dalam hal berdoa yang hanya meminta dan meminta berkat. Ketika sukses lupa mengucap syukur atas berkat yang Tuhan beri. Ketika ditimpa masalah baru ingat Tuhan dan kembali memanfaatkan Tuhan.

Di akhir kotbah, Pdt. Lipiyus meminta semua kader-kader inti Jemaat Eden agar maju ke depan, ia mendokan dan memberkati mereka. Ia juga menyerukan pertobatan dan mengambil sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan.

“Hargailah gereja yang membesarkanmu. Kader-kader gereja, berlutut dan berdoa. Hidup dalam firman. Kalau selama ini Anda memanfaatkan Tuhan, belajar untuk merendahkan diri.  Minta pelepasan dan pengampunanm” seru Pdt Lipiyus yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua.

Sementara itu, Kader GIDI, Wakil Gubernur Papua Pegunungan Dr. Ones Pahabol, pada kesempatan itu turut berterima kasih karena saat baru mencalonkan diri, ia didoakan di gereja ini. Ia juga berterima kasih kepada ibu Yulce Wenda sebagai senior gereja GiDI dan sebagai penyangga Gereja Eden dan gereja-gereja lain di Papua. Juga kepada Pdt. Lipiyus yang menggagas berdirinya Gereja Eden.

“Yang menjadi sejarah adalah almarhum bapak Lukas Enembe atas sumbangsih besar berdirinya gereja ini yang saat ini telah mendayung perahu dengan tenang di laut yang dalam dan berhenti di sana,” katanya.

Ia mengatakan, dalam 10 tahun ini, gereja Eden dipakai untuk menjadi berkat untuk tanah ini. “Ada maksud Tuhan yang lebih besar untuk tanah ini.  Usia 10 tahun tetapi telah bekerja lebih dari 10 tahun . gereja ini juga akan menjadi tempat untuk berbagai denominasi datang dan menikmati makanan rohani,” lanjutnya.

Ibu Yulce Wenda, pada waktu yang sama juga berterima kasih terutama kepada Tuhan dan semua jemaat karena melewati 10 tahun dengan luar biasa.  “Usia gereja telah 10 tahun tetapi kami memulainya dengan ibadah-ibadah di rumah lebih dari 10 tahun,” ucapnya.

Yarius Balingga, SE, Penangggungjawab Gereja GIDI Eden, juga berterima kasih kepada Pdt. Lipiyus yang telah merintis jemaat ini hingga saat ini berusia 10 tahun dan berkembang luar biasa. Perkembangan jemaat yang luar biasa dengan talenta-talenta muda berbakat yang bertumbuh di dalam gereja, menurutnya karena campur tangan Tuhan dan kebersamaan jemaat.

Hadir dalam ibadah syukur, Presiden GIDI, Pdt.Usman Kobak, Wakil Presiden GIDI yang juga Ketua Gembala Jemaat Eden, Pdt, Reinhadr Ohee, anggota DPD RI Arianto Kogoya, anggota DPRD Papua Pegunungan Fransina Dabi, yang juga adalah kader-kader terbaik Jemaat Eden.

Ibadah syukur ditutup dengan makan malam bersama jemaat dengan menu-menu khas Papua Pegunungan yakni makanan hasil bakar batu berupa babi, ubi-ubian dan sayuran. (Frida Adriana)

Facebook Comments Box