
Momen peresmian Karya simbolik Bahtera Kristoforus, bagian dari Pusat Spiritual Santo Yohanes Paulus II, di Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Papua, oleh Wakil Gubernur Papua, Ariyoko Rumaropen, Senin (2/2/2026).
JAYAPURA (PB.COM) – Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan imamat Pastor John Bunay, Pr. Ia adalah jejak panjang kesetiaan, pengabdian, dan keberanian pastoral yang kini bermuara pada lahirnya sebuah karya simbolik: Bahtera Kristoforus, bagian dari Pusat Spiritual Santo Yohanes Paulus II, yang diresmikan di Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (2/2/2026).
Peresmian yang dilakukan oleh Wakil Gubernur Papua, Ariyoko Rumaropen, bukan hanya menandai hadirnya sebuah bangunan fisik, tetapi menjadi peneguhan atas perjalanan imamat Pastor John yang genap 25 tahun melayani umat di Tanah Papua—sebagai gembala, pendidik, sekaligus suara kenabian bagi mereka yang tertindas.
Selain meresmikan Bahtera Kristoforus, Wagub Papua juga meresmikan Yayasan Santo Yohanes Paulus II serta melakukan penanaman pohon di area pusat spiritual tersebut, sebagai simbol keberlanjutan iman dan harapan.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua, kami memberikan apresiasi kepada Pastor John Bunay yang telah membangun Bahtera Kristoforus dan Pusat Spiritual Santo Yohanes Paulus II ini. Kehadirannya akan menjadi tempat pembinaan mental dan spiritual bagi generasi Papua ke depan,” ujar Wagub Ariyoko.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan profisiat dan ucapan selamat atas 25 tahun Tahbisan Imamat Pastor John Bunay, seraya berharap agar sang imam tetap setia melayani umat Papua dengan kasih dan ketulusan.
Imamat sebagai Jalan Totalitas
Bagi Pastor John, imamat bukan profesi, melainkan jalan hidup yang menuntut penyerahan total. Ia mengaku bahwa panggilan khusus ini mengajarkannya untuk sepenuhnya berpaling dari kepentingan pribadi demi pelayanan kemanusiaan.
“Saya bersyukur Tuhan menyertai dalam tugas khusus ini. Saya tidak memikirkan istri dan anak, tetapi melayani manusia,” ujarnya dengan nada reflektif.
Mantan Rektor Seminari Tinggi STFT Fajar Timur ini menegaskan bahwa kebersamaannya dengan umat adalah bentuk keluarga sejati dalam panggilan imamat. “Kami ada bersama umat. Itulah keluarga kami,” tuturnya.
Inspirasi pendirian Pusat Spiritual Santo Yohanes Paulus II lahir sepulangnya dari Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Singapura. Momentum 25 tahun imamat menjadi titik refleksi sekaligus dorongan untuk menghadirkan ruang pembinaan yang mempersatukan iman, budaya, dan perdamaian.
Bahtera Kristoforus: Simbol Papua yang Utuh
Bahtera Kristoforus dirancang sarat makna. Bagian luar bangunan berbentuk perahu, melambangkan masyarakat pesisir, sementara bagian dalamnya dibangun menyerupai Honai, rumah adat masyarakat pegunungan Papua. Sebuah simbol kuat tentang persatuan lintas wilayah dan budaya.
“Pesan damai yang ingin saya sampaikan adalah kita tidak memandang siapapun dari suku manapun. Prinsip hidup saya sederhana: saya sedih jika melihat engkau menangis dan bahagia jika melihat engkau tersenyum,” ungkap Pastor John.
Bahtera ini dimaknai sebagai sarana membawa umat kepada Kristus, Sang Sumber Damai, di tengah realitas Papua yang masih menghadapi berbagai tantangan sosial dan kemanusiaan.
Dari Mendidik Imam Menuju Menyiapkan Awam
Selama 25 tahun imamatnya, Pastor John banyak mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan pembinaan calon imam. Sejak 2004–2010, ia membina calon Imam Projo Keuskupan Jayapura, lalu melanjutkan studi spiritual di Filipina. Sekembalinya, ia setia menjalani panggilan pastoral dan akademik.
Pada 2004–2025, ia menjadi dosen di STFT, mengampu mata kuliah Ilmu Khotbah serta Pengintegrasian Pikiran dan Hati. Ia juga aktif sebagai pembimbing Kelompok Kharismatik, pendamping Legio Maria, dan berbagai kelompok kategorial lainnya.
Tahun 2025, Pastor John dipercaya Uskup Jayapura, Mgr Yanuarius You, menjadi Rektor Asrama Mahasiswa Katolik Tauboria—sebuah mandat yang menandai babak baru pelayanannya.
Jika 25 tahun pertama ia dedikasikan untuk menyiapkan para imam Papua, maka 25 tahun ke depan ia berkomitmen menyiapkan awam Katolik agar menjadi pribadi beriman, berkarakter, dan berdaya bagi Gereja dan Tanah Papua.
“Menuju 25 tahun ke depan, saya akan menyiapkan awam-awam Katolik melalui Asrama Mahasiswa Katolik Tauboria dan Pusat Spiritual Santo Yohanes Paulus II serta Bahtera Kristoforus di Dosay,” tegasnya.
Di usia imamat peraknya, Pastor John Bunay, Pr, tidak menoleh ke belakang dengan kebanggaan, melainkan melangkah ke depan dengan harapan menghadirkan bahtera damai bagi Papua, tempat iman, budaya, dan kemanusiaan berjumpa. (ADM)






























