Dua Perunggu Ditambahkan Atlet Judo Papua di Popnas 2019

Penyerahan medali kepada perunggu kepada atlet Judo Papua,  Sylvania Meiti Meraudje.

JAKARTA (PB.COM) – Setelah satu perunggu diraih atlet Judo, Maria Usor pada pertandingan sebelumnya, maka pada pertandingan hari terakhir, Minggu (24/11/2019), di Gedung Judo Jakarta Utara, tim Judo Papua kembali menambah dua medali perunggu di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2019.

Sehingga total cabang olahraga ini telah menyumbang 3 medali perunggu lewat Sisie Febrianti Sibi (kelas -63 kg putri) dan Silvana M. Meraudje (kelas +63 kg putri) serta Maria Usor di kelas -52 kg putri.

Asisten Pelatih Judo Popnas Papua, Vince Youwe mengaku bersyukur atas pencapaian. Dia berharap hasil ini dapat memotivasi kedua atletnya  agar tak cepat puas namun terus memacu semangat untuk ke depannya.

“Tentunya kita dorong supaya mereka tetapi berlatih dan bekerja keras untuk mengukir prestasi di iven-iven selanjutnya,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, ia berharap kepada pemerintah daerah agar lebih maksimal dalam mendukung kekurangan atlet berprestasi, baik dari segi fasilitas maupun sisi kesejahteraan.

“Yang paling utama sebenarnya untuk pakaian latihan itu harus ada. Kami sebelumnya kewalahan karena tidak punya pakaian latihan dan fasilitas pendukung lainnya,” akunya.

Meski begitu, lanjut Vince, sebagai pelatih dirinya meminta para anak asuhnya untuk tidak kecewa bertanding apa adanya.

“Sebab Tuhan baik dan berperkara, walaupun dengan keterbatasan yang ada, kami bisa menyumbang dua medali perunggu,” katanya.

Atlet Sisi Febrianti Sibi yang turun di kelas -63 kg mengaku bersyukur kepada Tuhan atas perolehan medali perunggu dan bisa mengharumkan nama Papua di ajang olahraga pelajar tingkat nasional.

“Saya bangga dan bersyukur, walau dapat juara tiga, tapi ini awal sebenarnya. Apalagi saya sebagai pemula,” ujar Sisi.

Medali ini dia persembahkan kepada seluruh masyarakat Papua yang sudah mendukungya. Terutama kepada pelatih dan official, keluarga dan  juga tempat latihannya di SPN Jayapura.

“ Medali ini saya mau persembahkan terutama kepada pelatih saya, ibu Pau yang selalu mendoakan kami, teman teman dan juga keluarga. Atas doa mereka semua, kami bisa menang, ucapnya.

Sisi mengaku, dalam pertandingan ini memang menghadapi lawan lawan yang tangguh dari daerah lain.

“Memang awalnya agak grogi sih, tapi anggap saja bertanding itu seperti latihan, ujar Sisi yang sebelumnya sudah pernah bertanding di kejurnas Judo di Jogja beberapat waktu lalu.

Saat ini Sisi tercatat sebagai siswa kelas 1 SMA Gabungan Jayapura.

Ungkapan yang sama juga disampaikan Sylvania Meiti Meraudje yang juga harus puas di posisi ketiga dengan mendapatkan medali perunggu untuk kelas +63 kg putri.

“Saya merasa senang dan bersyukur berterima kasih kepada Tuhan Yesus juga pelatih, teman-teman dan keluarga yang selalu mendukung dalam doa. Meski mendapatkan juara tiga tapi Tuhan selalu mendukung kami,” aku Sylvania yang merupakan siswi kelas 2 SMAN 2 Jayapura. (Andi/Frida)

Tim Dayung Papua Nomor Kayak Putri Raih Medali Emas di Popnas 2019

Atlet dayung Papua/Istimewa

KARAWANG (PB.COM) – Kontingen Papua akhirnya meraih emas di cabang olahraga dayung  nomor kayak putri. Ini menjadi satu satunya emas yang diraih Papua dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2019 Jakarta.

Selain satu medali emas, tim dayung Papua dalam pertandingan akhir juga berhasil membawa pulang satu medali perak dan satu perunggu. Pertandingan digelar di Danau Situ Cipule, Karawang, Jawab Barat, Minggu telah selesai dilaksanakan, Minggu (24/11/2019) sore.

Medali emas diraih tim dayung Papua yang turun di nomor Kayak 4 putri jarak 1.000 meter. Keempat pedayung putri Papua adalah  Anita Wambrauw, Ester Daimoi, Enjelina Koibur dan Lea Laste Entong. Perjuangan Papua cukup berat karena ditempel ketat oleh Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.

Tim dayung Kayak 4 putri Papua meraih medali emas dengan catatan waktu 4.08 menit, disusul tim Kalimantan Selatan,  4.11 menit. Sementara Jawa Barat meraih medali perunggu dengan 4.12 menit.

Sementara medali perak dipersembahkan oleh Herlin April Lali nomor Canoeing (C1) putri, medali emas di nomor ini diraih atlet Jambi Devita Safitri dan medali perunggu diraih atlet Sumatera Selatan. Lalu medali perunggu dipersembahkan Anjelina Koibur di nomor Kayak (K1) putri, Medali emas diraih  pedayung Jawa Tengah Fitriani Nadea  dan medali Perak menjadi milik Melati Fajar Ningrum.

Untuk nomor final Canoeing (C1) putra, Medali emas di raih Jawa Barat, disusul Jambi dan Kalimantan Selatan,  Canoeing (C2) putri medali emas milik Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur  dan Kayak 2 (K2) medali emas diraih pedayung Kalimantan Selatan dan medali perunggu Sulawesi Tenggara.

Final nomor Kayak (K1) Putra, medali emas diraih Subhi dari Jambi, perak Lukman Nurhakim dari DKI Jakarta dan medali perunggu Rahmad Hidayat dari Sulawasi Selatan.

Nomor Kayak 2 (K2) putra medali emas direbut tim dayung  kontingen Jambi, medali perak milik Jawa Barat dan medali perunggu diraih Sulawesi Tenggara. Nomor final Canoeing (C2) Putri medali emas diraih Kalimantan Tengah, disusul medali perak Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Kemudian nomor final Kayak 4 (K4) putra, Papua hanya finish keempat, medali emas diraih Jawa Barat, perak Kalsel dan Jambi mendapat medali perunggu.

Dalam lomba dayung nomor Rowing dan canoe/kayak, yang berakhir Minggu sore,   tim Jabar keluar sebagai juara umum dengan mengumpulkan 4 medali emas, medali 5 medali perak dan 1 medali perunggu. ‎

Peringkat kedua, Jambi dengan 4 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu, peringkat ketiga Selawesi Tengah, 2 medali emas dan 1 perunggu, disusul Kalteng, 2 medali emas,  DKI Jakarta, 1 emas, 3 perak 1 perunggu, Jateng 1 emas, 2 perunggu,  Papua 1 emas, 1 perak, 1 perunggu, Maluku 1 emas.

Pelatih Dayung Papua, Erni Sokoy mengaku bersyukur dengan prestasi yang dicapai tim asuhannya. “Kita sebelumnya target dua medali emas, tapi hanya dapat satu,  kami mohon maaf kepada Dinas Pemuda dan Olahraga dan masyarakat Papua karna tidak bisa mewujudkan target tersebut,” ucapnya.

Menurut Erni, tim dayung Papua rata-rata atlet baru dan hanya melakukan persiapan selama tiga bulan, sementara lawan-lawannya melakukan persiapan yang panjang dan banyak diantaranya merupakan  atlet pelatnas.

“Saya bangga dengan atlet dayung Papua, walaupun mereka baru tapi bisa memberikan persaingan kepada atlet pelatnas dari Provinsi lain,” ucapnya lagi.

Senang Namun akan Evaluasi

Sekretaris Dinas Olahraga dan Pemuda Papua, Idris Salama mengaku senang dan mengapresiasi sebab dayung bisa menyumbangkan medali emas bagi kontingen Papua.

“Alhamdulillah, kita berhasil meraih satu medali emas, artinya prestasi Popnas 2019 meningkat dari dua tahun lalu di Jawa Tengah, kita tidak dapat medali emas,” ujarnya.

Idris mengatakan, setelah pulang ke Jayapura, cabor-cabor yang gagal menyumbang medali bagi Papua pada Popnas 2019 akan dievaluasi oleh Dinas Olahraga dan Pemuda. “Jadi bukan cabornya saja, pelatih pun akan kita evaluasi semua,” tukasnya.

Katanya, puncak prestasi atlet pelajar itu ada di Popnas, sehingga kalau gagal, tentunya akan dievaluasi. Kemudian yang gagal tidak lagi bisa masuk Pusat Pelatihan dan Latihan Pelajar (PPLP), harus ikut seleksi bersama pelajar yang lainnya. “Nanti kita pulang ke Jayapura langsung kita evaluasi,”  pungkasnya.

Dengan demikian total Provinsi Papua telah mengumpulkan, 1 emas, 2 perak dan 11 medali perunggu. (Andi/Frida)

Tim Karate Papua Banyak Tumbang di Babak Penyisihan Popnas 2019

Atlet karate putra Papua ketika bertanding.

JAKARTA (PB.COM) – Kontingen karate Papua harus menelan pil pahit setelah gagal total meraup medali di semua kelas pada ajang Pekan Olahraga Nasional (Popnas) 2019 di Jakarta.

Bertanding sejak 17 November hingga 20 November 2019 di Gelanggang Remaja Cempaka Putih, Jakarta, Tim Karate Papua sama sekali tak mampu menyumbang medali, karena kalah bersaing dengan provinsi lain.

Tim Karate Papua juga lebih banyak tumbang di babak penyisihan. Peluang untuk memperoleh medali perunggu sebenarnya sempat ada, andai saja Freddy Sibi yang turun di kelas -68 kg putra mampu melewati hadangan Mochamad Zhidan Is dari Jawa Barat. Sayangnya, Freddy kalah dengan skor 5-0

Asisten Pelatih Karate Popnas Papua, Kelana Vhisnu Nugroho mengaku, ketidaksiapan mental para atlet menjadi hal paling krusial hingga menghambat mereka berprestasi.

Di lain pihak, pelaksanaan Training Center (TC) yang terputus-putus akibat kerusuhan Jayapura dan Try Out yang belum sempat diikuti, menjadi faktor utama kegagalan tim karate Papua.

Menanggapi hasil buruk itu, Sekretaris Dinas Olahraga Papua Idris Salama mengakui kerusuhan di Jayapura memang sempat meghambat pelaksanaan TC atlet Popnas Papua.

Kendati demikian, dia menilai hal itu sudah menjadi resiko dalam sebuah tim. Pun begitu, kegagalan sebuah tim untuk merebut medali bukan ada pada atlet.

“Persiapan TC kan sebenarnya sudah sangat lama, meski sempat terhenti karena ada kerusuhan. Jadi kalau kalah karena alasan perlengkapan atau TC, saya selalu pegang filosofi seorang pelaku Paulus Pesurnay bahwa atlet tidak pernah salah, yang salah itu pelatih”.

“Tapi yang terpenting saat ini kita pulang lalu evaluasi dan benahi. Jangan saling menyalahkan karena tidak ada gunanya,” katanya.

Sementara itu keluar sebagai juara umum DKI Jakarta. Disusul Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur dan Banten. (Andi/Frida)

Hari Ini, Atlet Panahan Papua Kembali Bertanding

Atlet Panahan Papua ketika sedang berlatih.

JAKARTA (PB.COM) – Tiga atlet Papua yang turun di cabang olahraga Panahan gagal menyumbang medali. Ini menambah deretan panjang atlet Papua yang gagal mempersembahkan medali  pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XV Jakarta 2019.

Bertanding di Arena Panahan Senayan, Jakarta, Rabu (20/11/2019) lalu, Darmansyah Nurhamka, Bintang Nayla Samar dan Annaketsia Yapsoumilena, yang turun di Divisi Recurve Individu, kalah bersaing dengan pemanah dari provinsi lain.

Terkait kegagalan ini, Manajer Tim Panahan Popnas Papua, Herman Monim langsung menginstruksikan anak asuhnya untuk mengalihkan perhatian ke pertandingan di nomor Divisi Individu Nasional yang akan berlangsung hari ini Jumat (22/11), di Stadion Madya GBK  Jumat (22/11/2019) hari ini.

Dimana Tim Papua yang diturunkan yakni atlet Joy Immanuella Siagian. Sementara di Divisi Nasional beregu putra, Jonathan Revano Fymbay, Muh. Perdana Pengestu dan Muh. Revaldi Asdzikir, serta beregu putri, Ira Dwi Pusfairiza, Joy Immanuella Siagian dan Zahira Syafaat.

“Untuk hari ini, tiga atlet Papua kita yang turun di divisi recurve memang tidak lolos. Namun kita akan berusaha di pertandingan Jumat nanti,” ungkap Herman, Rabu lalu.

“Saya sudah minta atlet untuk istirahat dulu di hotel, setelah itu kita kasih pengarahan dan motivasi supaya bisa bertarung di pertandingan berikut,” sambungnya.

Herman Monim juga mengharapkan dukungan doa dari masyarakat Papua, agar para atlet panahan mampu menyumbang medali di pertandingan berikut.

“Sebab dukungan doa dari masyarakat Papua sangat penting untuk membangkitkan semangat para atlet, guna mengharumkan nama Papua di iven Popnas ini,” pungkasnya. (Andi/Frida)

Tiga Medali Perunggu Diraih Atlet Taekwondo Papua

Pelatih Taekwondo Papua, Wempi Kesowe berpose bersama dua atletnya yang meraih medali perunggu.

JAKARTA (PB.COM) – Kontingen Papua hingga hari kelima pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2019 belum bisa meraih medali emas.

Harapan Papua meraih medali emas dari cabang olahraga Taekwondo akhirnya pupus sudah setelah Natasya Numberi dan Rebeca Marlina Naa yang turun di semifinal gagal melaju ke final.

Hari terakhir, pelaksanaan POPNAS cabang olahraga Taekwondo di Pendulum Nusantara Hall, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/11) Papua hanya meraih 3 medali perunggu, yang dipersembahkan Natasya Numberi dan Rebeca Marlina Naa. Sedangkan satu perunggu lainnya dipersembahkan oleh Pidelis Kasipmabin.

Untuk Cabor Taekwondo, Provinsi DKI Jakarta keluar sebagai juara umum dengan meraih 7 medali emas, 3 perak, 3 perunggu, disusul Jawa Barat dengan 3 emas, 5 perak, dan 3 perunggu), Lalu tempat ketiga Jatim dengan 3 emas, 2 perak, dan 4 perunggu.

Pelatih Taekwondo Papua, Wempi Kesowe memberikan apresiasi kepada atlet Papua yang sudah berjuang di Popnas hingga meraih medali.

“Saya mengapresiasi semua perjuangan dari atlet, yang akhirnya dapat meraih medali, meski hanya tiga medali perunggu,” ucapnya.

Wempi berharap, prestasi ini kedepannya harus lebih ditingkatkan lagi, agar di Popnas XVI nanti mampu meraih medali Perak bahkan medali emas.

Wempi mengaku, faktor TC (traning camp) yang tidak berkelanjutan pasca kerusuhan di Kota Jayapura beberapa bulan lalu membuat performa atletnya menurun, hal itu yang dituding melempemnya performa para atletnya.

“Saat kerusuhan di Kota Jayapura, kita sempat berhenti latihan, andaikan mereka tetap berada di Jayapura pasti kita bisa meraih hasil yang lebih baik lagi. Tapi saya tetap puas dengan penampilan atlet kami, karena secara taktik kami cukup mengimbangi lawan, hanya saja kita kalah dalam hal teknis,” katanya. (Andi/Frida)

Kontingen Atletik Papua Gagal Total di Popnas 2019

Pertandingan Atletik di Stadion Madya GBK Jakarta.

JAKARTA (PB.COM) – Tak satu pun medali diraih atlet Papua di cabang olahraga Atletik Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XV 2019, Jakarta.

Untuk kelas lari 100 meter putra, Papua menurunkan atlet Yusuf Raubaba, Kain Rerei, Fredy Abubar, nomor 100 meter putri, Lusinta Burumi, Yanet Patay, Matia Padwa.

Nomor 200 meter putra dan putri, Yusuf Raubaba, Ferlian Rumere, Max Mnumumez, Lusinta Burumi, Janet Patay, Sisilia Mariem.

Sedangkan Nomor 400 meter putra dan putrid, Melky Sedek Isagi, Frans Kamak Kuala, Yermias Gebze, Triyolin Yarisetouw, Sely Yarangga, Yoklan Mayor. Lalu Nomor 800 dan 1500 meter putra, Ever Baransano, Demianus Rumaropen. Nomor 110 meter gawang putra Fredi Abubar nomor 400 gawang putra, Mika Kmur.

Sangat disayangkan, karena tim Papua yang turun di nomor final 100 meter, 200 meter dan 400 semuanya gagal meraih medali. Begitu pun di nomor final estafet 4×100 meter putra/putri, dalam pertandingan yang berlangsung, Kamis (20/11/2019) di Stadion Madya Gelora Bung Karno. Papua harus puas berada di belakang pelari DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Pelatih Atletik Papua, Yanes Raubaba yang ditemui pers di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Kamis malam, mengaku sebenarnya punya target untuk meraih medali nomor lompat jauh putra, Mikdon Mirin maupun lempar lembing putra Makfredom Rumkorem. Namun sayangnya, kedua anak asuhnya pun gagal medali emas.

Meski begitu, aku Yanes, Papua masih punya kans mendulang medali dari nomor lempar cakram (Makfedom Rumkorem) dan nomor tolak peluru (George Gebze) yang akan dipertandingkan, Jumat (21/11/2019) hari ini.

Yanes mengaku, jika pelari-pelari  Papua tampil tidak maksimal karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya factor latihan yang tidak maksimal lantaran kondisi Kota Jayapura yang sempat dilanda kerusuhan, membuat atlet dikembalikan ke daerahnya masing-masing.

“Ya, kita harus akui jika persiapan kita ke Popnas terganggu dengan kondisi keamanan Papua, anak-anak kita kembalikan ke daerah, tanpa ada yang mengawasi mereka latihan,” akunya.

Lanjutnya, Papua masih menaruh harapan untuk mendapat medali di nomor lempar cakram tolak peluru.

“Kami masih tetap optimis, bisa meraih medali di nomor  lempar cakram tolak peluru,” tutur Yanes Raubaba mantan atlet sprint Indonesia tersebut.

Sementara itu, berdasarkan data perolehan medali sementara cabang cabang olahraga atletik POPNAS 2019, kontingen Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang mendominasi.

Jawa Timur meraih 12 medali (4 emas, 3 perak, 5 perungg), DKI Jakarta 10 medali (3 emas, 5 perak, 2 perunggu), Jawa Tengah 8 medali (2 emas, 3 perak, 3 perunggu).

Jawa Barat 6 medali (2 emas, 2 perak, 2 perunggu). Sumut (2 emas, 1 perak), Sulut (2 emas), Sumbar, Kep. Bangka Belitung, NTT, Bali, Sumsel, DI Yogjakarta, Gorontalo, NTB dan Kalsel masing-masing meraih satu medali emas. (Andi/Frida)

Kadis Orda Jelaskan Batalnya POPNAS di Papua Pada CdM Meeting POPNAS XV

Pertemuan Cdm Meeting Popnas XV di Hotel Peninsula Jakarta, Rabu (16/10/2019).

JAKARTA (PB.COM) – Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Papua, Alexander Kapisa, menjelaskan alasan pemindahan pelaksanaan POPNAS XV yang semula dijadwalkan dilaksanakan di Papua pada bulan Oktober, akhirnya dikembalikan ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk menunjuk daerah lain sebagai tuan rumah,

Pertemuan Cdm Meeting Popnas XV di Hotel Peninsula Jakarta, Rabu (16/10/2019), dipimpin langsung Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot Dewabroto, dan dihadiri Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Yuni Poerwanti, kadispora Jawa Barat, Kadispora Sulwesi Barat dan Tecnical Delegate Popnas XV 2019.

“Saya secara pribadi sangat berterima kasih atas undangannya dalam pertemuan ini untuk dapat menjelaskan alasan mengapa Popnas batal dilaksanakan di Papua agar teman-teman dari daerah dan TD dapat memahami keputusan pembatalan tersebut,” ujar Alexander Kapisa.

Lebih lanjut Alexander menyampaikan bahwa kesiapan venue, peralatan, dan kondisi keamanan yang menjadi pertimbangan permintaan pemindahan lokasi pelaksanaan Popnas.

“Bapak Gubernur Papua mempertimbangkan faktor keamanan dan kenyamanan peserta Popnas selain masalah peralatan dan kesiapan venue. Dengan adanya beberapa demonstrasi besar-besaran di Jayapura dan beberapa daerah kainnya di Papua maka Bapak Gubernur memutuskan untuk mengembalikkan mandat tuan rumah Popnas ke Kemenpora. Atas nama Bapak Gubernur Papua kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat ats kesediaannya menjadi pelaksana Popnas XV ini,” terang Alexander.

Sesmenpora Gaot Dewabroto dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa pemindahan lokasi Popnas bergerak sangat cepat merespon perkembangan yang terjadi di Papua.

“Koordinasi kami dengan Pak Alex ini sangat intens sehingga pada awalnya kami masih optimis Popnas dapat terlaksana di Papua. Hanya karena ada kejadian yang sama sama kita ketahui kemudian mendorong terjadinya demonstrasi besar-besaran di Papua, akhirnya kami segera berpikir untuk menyiapkan pelaksanaan Polnas di luar Papua. Alhamdulillah Pemprov DKI dan Jabar siap menjadi tuan rumah Popnas,” sambung Gatot.

Pelaksanaan Popnas, lanjut Sesmenpora, harus tetap dilaksanakan apapun yang terjadi. “Popnas ini adalah salah satu tahapan pembibitan dan penyiapan atlit-atlit kita, jadi harus tetap dilaksanakan. Kita tidak bisa mengabaikan hal ini. Untuk itu saya minta kepada Pemerintah Daerah dan para TD untuk dapat merumuskan dan mempersiapkan dengan baik pelaksnaaan Popnas Ini,” tutup Gatot Dewabroto (Gusty Masan Raya)

Popnas dan Peparpenas Resmi Batal, Indikasi PON Papua Diundur?

Tampak Stadion Papua Bangkit untuk PON Papua yang berdiri megah di Kampung Harapan, Sentani, Kabupaten Jayapura.

JAYAPURA (PB.COM)-Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) secara resmi memutuskan bahwa pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar Nasiknal (Popnas) XV dan Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) IX Tahun 2019 yang awalnya akan dilaksanakan di Provinsi Papua akan dipindahkan ke provinsi lain.

“Kami baru saja bertemu Sesmenpora, Bapak Gatot Dewabrata, dan diberikan penjelasan mengenai respon terhadap Surat Bapak Gubernur perihal Permohonan Pemindahan Penyelenggaraan Popnas dan Peparpenas.  Secara resmi Pemerintah, dalam hal ini Kemenpora, dapat memahami latar belakang permohonan tersebut dan sudah menyetujui permintaan Bapak Gubernur tersebut. Saya juga sudah menerima Surat pemberitahuan dari Sesmenpora yang ditujukan kepada Kepala Dispora seluruh Indonesia,” kata  Plt. Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi Papua, Alexander Kapisa, ST.

Menpora Imam Nahrawi mencoba rumput lapangan Stadion Papua Bangkit saat kunjungannya 21 Juni 2019 silam.

Dalam surat yang ditandatangani Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga dan ditujukan kepada Kepala Dispora Seluruh Indonesia No. SS.8.23.5/SET/VIII/2019 Perihal Pemberitahuan Pembatalan Popnas XV dan Peparpenas IX Papua tersebut disampaikan bahwa pemerintah sangat memahami kondisi di Provinsi Papua saat ini, khususnya berkaitan dengan keamanan yang belum stabil dan alasan teknis berkaitan dengan lelang venue yang sampai saat ini belum tuntas.

Perihal lokasi pelaksanaan Popnas dan Peparpenas yang baru pasca mundurnya Provinsi Papua, kata Kapisa, sampai saat ini belum diputuskan.

Lalu bagaimana nasib penyelenggaraan PON XX Papua tahun 2020. Saat menggelar jumpa pers di Gedung Negara Jayapura,  Jumat (16/8/2019), Gubernur Lukas Enembe, SIP.MH mengatakan Pemprov Papua sedang mewacanakan untuk pengunduran pelaksanaan PON Papua yang seharusnya berlangsung Oktober 2020 itu.

Gubernur Papua Lukas Enembe saat menjawab wartawan di Gedung Negara Jayapura.

“Kendalanya ada di venue dan peralatan. Kami beberapa waktu lalu bertemu Erik Tohir (Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018) dan dia mengatakan asian games saja bisa tunda apalagi PON. Kita mau ketemu presiden untuk ditunda, karena kita evaluasi pelaksanaan pembangunan sampai berapa persen kemudian kita beli alat peralatan harusnya satu tahun sebelumnya, kapan kita belanja? Sementara kita mau pinjam di asian games saja sudah tidak ada. Inpres PON saja, sekarang baru masuk di ibu Puan Maharani (Menko PMK). Jadi kita mungkin minta waktu, kalau Jokowi setuju yah mungkin ditunda ke 2021 atau 2022,” kata Gubernur Lukas.

Gubernur Papua Lukas Enembe didampingi Sekda Papua Hery Dosinaen saat meninjau Stadion Papua Bangkit, Maret 2019 lalu.

Menurut Lukas, wacana penundaan ini bukannya tanpa alasan. Sebab untuk pembangunan infrastruktur PON saja semuanya harus dibangun dari nol. Belum lagi untuk persiapan alat-alat pertandingan yang seharusnya dipersiapkan satu tahun sebelum hari pelaksanaan. Lalu kesiapan atlet dari seribu atlet baru 800 atlet yang terdata.

“Untuk PON saja kita masih butuh anggaran Rp 4 triliun, kecuali negara mau turun tangan,” katanya. (Gusty Masan Raya/Andi)