Ketua Umum Garuda Papua, Gifli Buinei saat memberikan keterangan kepada wartawan

JAYAPURA (PB.COM) – Di tengah dinamika sosial dan keberagaman yang menjadi wajah khas Tanah Papua, ratusan pemuda berkumpul dalam sebuah ruang dialog yang sarat makna. Pergerakan Pemuda Papua (Garuda Papua) menggelar diskusi publik bertema “Merawat Kebhinekaan Sebagai Modal Pembangunan Papua” di Kotaraja, Rabu (29/4/2026), sebagai upaya memperkuat kesadaran kolektif generasi muda akan pentingnya persatuan di tengah perbedaan.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi Papua seperti Prof. Melkias Hetaria, Habelino Sawaki, SH., M.Si, Stev Rick E. Mara, SH., M.Han, Dr. Marci Rita, ST., M.Si, serta Yohanes Y. Wanane, M.Si. Diskusi berlangsung dinamis, menggali berbagai perspektif tentang bagaimana kebhinekaan tidak hanya menjadi realitas sosial, tetapi juga fondasi penting dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan di Papua.

Suasana Seminar yang digagas Garuda Papua, dihadiri oleh ratusan pemuda Papua.

Ketua Umum Garuda Papua, Gifli Buinei, menegaskan bahwa organisasi yang baru dibentuk tersebut hadir sebagai wadah pemersatu pemuda lintas latar belakang di Papua. Ia menjelaskan, nama “Garuda Papua” merupakan akronim dari Gerakan Pemuda Papua Penjaga Kebhinekaan, sebuah refleksi dari komitmen organisasi dalam merawat keberagaman yang ada.

“Papua itu sangat beragam, baik dari sisi suku maupun bahasa. Kebhinekaan itu terasa sekali. Karena itu kami merasa bertanggung jawab untuk terus merawat keberagaman dan kebersamaan. Jika ini dijaga dengan baik, maka akan menjadi landasan penting bagi pembangunan. Sebaliknya, jika tidak, potensi konflik horizontal bisa muncul dan menghambat pembangunan,” ujar Gifli di sela kegiatan.

Menurutnya, kehadiran sekitar 500 pemuda dalam diskusi ini menjadi momentum refleksi bersama, sekaligus ajakan untuk mengambil peran aktif dalam menjaga harmoni sosial. Ia juga menyinggung momentum 1 Mei yang diperingati sebagai hari kembalinya Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang hingga kini masih menyisakan berbagai polemik di ruang publik.

“Perbedaan itu hal yang biasa dalam demokrasi. Tapi yang utama adalah bagaimana kita menjaga keberagaman demi masa depan Papua yang lebih baik,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal Garuda Papua, Simon Petrus Bame, menambahkan bahwa organisasi ini ke depan akan terus mendorong kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan lebih banyak pemuda dari berbagai latar belakang. Garuda Papua diharapkan menjadi ruang kolaboratif yang tidak hanya memperkuat persatuan, tetapi juga mendorong kontribusi nyata generasi muda dalam pembangunan daerah.

Kehadiran Garuda Papua sebagai organisasi baru membawa harapan tersendiri. Di tengah tantangan sosial dan dinamika politik yang kerap mewarnai Papua, peran pemuda dinilai krusial sebagai penjaga harmoni sekaligus agen perubahan. Upaya merawat kebhinekaan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak agar pembangunan dapat berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.

Dengan semangat kolaborasi dan kesadaran akan pentingnya persatuan, Garuda Papua diharapkan mampu menjadi motor penggerak lahirnya generasi muda yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif dalam menjawab berbagai persoalan di Papua. Diskusi ini menjadi langkah awal, sekaligus penegasan bahwa masa depan Papua sangat ditentukan oleh kemampuan generasi mudanya dalam menjaga kebersamaan di tengah keberagaman. (ADM)

 

Facebook Comments Box