Pembina Pesantren Al-Hidayah Papua Aloysius Giyai Buka Puasa Bersama Para Santri

 

drg. Aloysius Giyai, M.Kes saat berbuka puasa bersama para santri MTS Al-Hidayah Abepura, Sabtu (23/04/2022)

JAYAPURA (PB.COM)-Di tengah-tengah kesibukannya, intelektual  Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes selaku pembina Yayasan Al Hidayah II menghadiri acara Buka Bersama (Bukber) bersama para santri dan komunitas MTS Al-Hidayah Abepura, Sabtu (23/04/2022).

Menurut Dokter Alo, Yayasan Al-Hidayah Nusantara Papua ini memiliki sejarah tersendiri dalam hidupnya. Saat itu, kata Alo, proses pembangunan lembaga pendidikan Islam ini memang mendapat banyak tantangan.

Dokter Aloysius Giyai saat memberikan sambutan di sela-sela acara buka bersama para santri MTS Al-Hidayah Abepura.

“Sebagai intelektual Papua yang sangat mencintai pluralisme dan menjunjung toleransi, Alo pun berjuang agar mesjid, Ponpes dan MTS itu tetap dibangun,” kata Alo yang saat ini menjabat Plt. Sekretaris Daerah Pegunungan Bintang.

Alo menegaskan, sudah sejak tahun 2013, ia menjadi pembina sekaligus donatur tetap untuk mendukung pembinaan para santri Al-Hidayah Abepura ini. Namun jauh sebelum itu, sejak 2004, ia telah membantu Haji Tang dan Haji Alwi dalam proses pembangunan musholah yang menjadi cikal bakal lahirnya Pondok Pesantren Al-Hidayah II.

Dokter Aloysius Giyai foto bersama para santri dan guru.

“Selamat berbuka puasa. Saya hanya memberi seadanya untuk berbuka bersama. Masih sembilan hari kalian puasa. Semoga tetap sabar dan teguh untuk menyambung kemenangan di hari yang Fitri,” ujar Alo.

Pada kesempatan itu, Alo juga mendorong para santri yang ingin sekolah menjadi dokter. Ia berjanji akan siap membantu mereka untuk memberikan rekomendasi ke universitas yang diinginkan.

“Jadi mulai sekarang, belajar yang rajin dan dapat nilai yang baik,” katanya disambut tepuk tangan para santri dan guru-guru. Beberapa santri perempuan memang mengangkat tangan tanda ingin sekolah menjadi dokter.

Terima Kasih
Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al-Hidayah Abepura Retno Dyah Kusmiati, S.Pd mengaku sangat berterima kasih kepada sosok pluralis Bapak Alo Giyai, yang hingga kini menjadi donatur bagi pendidikan para santri.

Dokter Aloysius Giyai saat berbincang dengan Kepala MTS Al-Hidayah Abepura, Ibu Retno Dyah Kusmiati, S.Pd.

“Kami sangat bersyukur memiliki pembina seperti Bapak Aloysius. Sejak 2004 beliau yang banyak membantu proses pembebasan lahan. Berkat donasi beliau juga, pendidikan para santri yang umumnya kaum dhuafah bisa berjalan di sini. Terima kasih Bapak Alo, doa kami agar Bapak sukses selalu dalam karya dan pelayanan, diberi kesehatan dan umur panjang,” kata Retno.

Wanita asal Jawa Tengah ini juga menuturkan, Yayasan Al-Hidayah Nusantara Papua memiliki empat lembaga pendidikan yakni TK, Pondok Pesantren, Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebanyak 200-an lebih siswa, dan MTS sebanyak 41 santri.

Para santri di MTS Al-Hidayah Abepura.

Tak jauh dari lokasi ini, terdapat pondok pesantren Al Hidayah I tempat para santri menginap. Namun sejak Covid, para santri ini dipulangkan.

“Allah SWT yang membalas kebaikan Bapak Aloysius. Teruslah menjadi donatur bagi kami untuk tumbuh kembang sekolah ini,” kata Retno. (Gusty Masan Raya)

Bumi Okmin Berduka Kehilangan Sosok  Welington Wenda

Ucapan duka dari Pemkab Pegubin atas berpulangnya mantan bupati Drs. Wellington Wenda, M.Si

 

JAYAPURA (PB.COM)—Bumi Okmin berduka. Mantan Bupati Pegunungan Bintang (Pegubin), Provinsi Papua, Drs. Wellington Lod Wenda, M.Si, meninggal dunia di Rumah Sakit Yarsi, bilangan Jalan Suprapto, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (11/03/2022) pukul 06.00 WIB. Ia berpulang setelah menjalani perawatan di rumah sakit itu akibat menderita sakit.

Wellington adalah peletak dasar pembangunan Pegubin. Ia menjabat sebagai bupati Pegubin selama dua periode yakni 2005-2010 berpasangan dengan Drs. Theo Sitokdana dan periode 2010-2015 bersama Yakobus Wayam.

“Telah berpulang ke pangkuan Allah Bapa di Surga, Bapak Drs Wellington Lod Wenda, M.Si di Rumah Sakit Yarsi Jakarta pukul 06.00 WIB,” demikian informasi yang menyebar di sejumlah whatsapp group di Papua.

Jenazah Welington Wenda saat disemayamkan di Jakarta sebelum diberangkatkan ke Jayapura.

Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST.M.Si menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya mantan bupati Pegubin, Wellington Wenda.

“Beliau sangat berjasa bagi kemajuan Pegunungan Bintang. Beliau yang meletakkan dasar pembangunan dan merintis kemajuan. Kami anak-anak Pegunungan Bintang yang menjadi pemimpin hari ini, juga adalah berkat jasanya menyiapkan SDM dan kader,” kata Bupati Spei.

Menurut Spei, seluruh masyarakat Pegunungan Bintang, terutama para pemimpin di level birokrasi pemerintahan, politik maupun kepemudaan, harus meneruskan roh dan semangat seorang Wellington dalam membangun Bumi Okmin.

“Selamat jalan orang tua kami, dan terima kasih atas jasa-jasamu. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan,” tegas Spei.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang drg. Aloysius Giyai, M.Kes mengatakan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang bersama bersama seluruh jajaran serta masyarakat merasa kehilangan sosok Wellington Wenda, pemimpin yang rendah hati dan bertangan dingin memajukan masyarakat dan daerah dengan totalitas pengabdian .

“Beliau bukan hanya sekadar seorang pemimpin formal, tetapi juga sosok panutan masyarakat. Gaya kepemimpinan melayani masyarakat adalah legasi besar pemerintah dan masyarakat Pegunungan Bintang saat ini dan di masa akan datang. Pemerintah dan masyarakat sungguh merasa kehilangan sosok seperti beliau,” ujar Alo saat dihubungi dari Oksibil, ibukota Pegunungan Bintang, Jumat (11/03/2022).

Sosok Yang Rendah Hati

Theodorus Sitokdana, mantan Wakil Bupati Pegunugan Bintang yang mendampingi Wellington Wenda pada periode 2005-2010, merasa sedih dan kaget mendengar kabar kepergian sahabatnya Wellington.

Drs. Wellington Lod Wenda, M.Si

Menurut Theo, ketika ia mendampingi Almarhum sebagai Bupati Pegunungan Bintang, ia merasakan karakter kepemimpinannya yang sangat kebapakan dan bijaksana. Welington juga sangat dekat dan mengasihi rakyat Pegubin.

Theo mengisahkan, saat Wellington Wenda pertama kali tiba di Oksibil, ia diberikan sebuah kampak batu oleh Ketua Dewan Adat Pegunungan Bintang, Amoksarem Uropmabin. Theo ingat baik pesan tua adat ini kepada Wellington. Tua adat itu berpesan bahwa kampak batu ini dulu dipakai oleh nenek moyang masyarakat Pegunungan Bintang untuk memotong kayu, membuka hutan, membuat rumah, dan berkebun guna mempertahankan hidup.

“Kata tua adat itu kepada Pak Wellington. ‘Saya berikan kampak batu ini kepada anak Bupati. Pakailah dan jadikan sebagai simbol dalam proses membangun Kabupaten Pegunungan Bintang.’ Pesan ini dijadikan sebagai pedoman dan titik awal memulai pembangunan di Pegunungan Bintang selama periode kami berdua memimpin Pegunungan Bintang lalu beliau lanjutkan periode kedua bersama wakil bupati, Pak Yakobus Wayam,” kata Theo.

Theo mengisahkan, meski kerap menghadapi berbagai kendala dan tantangan, baik geografis maupun keterbatasan semua sumber daya, Welington terkenal keras kepala dan pemikir. Ia tetap berupaya meletakkan dasar dan arah pembangunan dengan sangat monumental, fenomenal, fundamental dan prestisius dalam semua aspek.

“Terbukti ia mengubah wajah Oksibil menjadi sebuah kota di daerah pegunungan Papua. Almarhum juga satu-satunya bupati di daerah pegunungan Papua kala itu yang mendapat penghargaan Presiden Republik Indonesia atas keberhasilannya memajukan Pegubin bersama jajaran pemerintah dan masyarakat,” tutur Theo yang saat ini menjadi Staf Khusus Bupati Pegubin Bidang Pendidikan dan Kesehatan ini.

Pada masa kepemimpinannya, banyak anak asli Pegunungan Bintang dikirim keluar daerah untuk melanjutkan studi lalu kembali mengabdikan diri di daerahnya. Sejumlah kampus diajaknhya bekerja sama seperti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Yayasan Binterbusih di Semarang.

“Hasilnya banyak sarjana asli Pegunungan Bintang lulusan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Unika Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan beberapa perguruan tinggi lain di Jawa. Pak Wellington Wenda meningalkan cerita memorable inspiratif bagi pemerintah dan masyarakat Pegunungan Bintang,” urainya.

Untuk diketahui, Drs. Wellington Lod Wenda, M.Si lahir pada 18 November 1954. Sebelum menjabat sebagai Bupati Pegubin, ia pernah menjabat Kepala Bidang Sosial Budaya dan Kepala  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Papua. Ia pergi meninggalkan isteri terkasih Y. Kogoya dan sang putra, Kris Kogoya.

Saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Papua tahun 2013, Welington maju menjadi calon gubernur berpasangan dengan Wenan Watori. Keduanya meraih 153.453 suara atau 7 persen. Pilgub itu dimenangkan oleh Lukas Enembe-Klemen Tinal dengan memperoleh 1.199.657 suara atau 52 persen dari total suara sah 2.713.465 suara yang tersebar di 28 kabupaten/kota di Papua.

Pada 2016, Wellington juga terlibat dalam urusan politik sebagai Ketua DPW Partai Idaman Provinsi Papua. Sayangnya, partai besutan Rhoma Irama itu tidak lolos verifikasi oleh KPU dan Bawaslu RI menjadi peserta Pemilu 2019.

Selamat Jalan Putra Terbaik Papua. Terima Kasih Atas Jasa-Jasamu. Tuhan Menyambutmu di Surga Abadi! (Gusty Masan Raya)

Pemda Pegubin Gelar Seleksi 9 Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama

Para calon yang ikut dalam seleksi 9 jabatan Pimpinan Tinggi Prarama Kabupaten Pegunungan Bintang saat hadir pada kegiatan pembukaan seleksi di Kantor BKN Jayapura, Rabu (19/01/2022)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) menggelar Psikotes dan Tes Wawancara dalam Seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama bagi 29 calon yang lolos administrasi. Para calon ini diseleksi untuk mengisi 9 jabatan terdiri dari 3 Asisten Sekretariat Daerah (Setda) dan 6 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemkab Pegubin.

Giat yang berlangsung selama dua hari di Kantor Regional IX Badan Kepegawaian Negara (BKN) Jayapura, Rabu (19/01/2022) ini, dibuka Plt. Sekretaris Daerah Pegubin, drg. Aloysius Giyai, M.Kes. Hadir mendampingi Sekda, Asisten I Setda Pegubin Hironimus Uropmabin. Spd,.M.Kap dan Ketua Ketua Unit Assessment Center Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Prof. Dr. H.R. Partino,M.Pd.

“Dalam nama Bapa Putra dan Roh Kudus, seleksi jabatan pimpinan tinggi pratama di lingkungan pemerintah Pegunungan bintang pada hari ini kami nyatakan dibuka secara resmi,” kata Sekda Aloysius disusul dengan pemukulan tifa dan tepuk tangan para peserta seleksi.

Menurut Aloysius, seleksi ini digelar secara terbuka dengan menjunjung tinggi profesionalitas, integritas dan pengalaman kerja bagi para calon. Oleh karena itu, kepada semua calon yang ikut, ia berharap tetap serius melewati tahapan seleksi, tidak anggap remeh, tetapi juga tidak merasa tertekan.

Plt. Sekda Pegubin drg. Aloysius Giyai. M.Kes saat  memberikan arahan saat membuka kegiatan seleksi Jabatan Tinggi Pratama.

“Ada 29 calon yang lolos administrasi ikut dalam seleksi ini untuk menduduki 9 jabatan. Artinya, ada 20 yang akan tidak lulus. Ini bukan soal kita duduk eselon II atau eselon III. Karena jabatan birokrasi tak abadi. Kapan saja bisa berpindah tangan ke orang lain. Yang terpenting setiap kita bisa mampu bekerja dan mempertanggungjawabkan tugas dan fungsi yang melekat,” tegas Aloysius.

Kegiatan seleksi ini dipimpin oleh Ketua Unit Assessment Center Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Prof. Dr. H.R. Partino,M.Pd dan sekretarisnya, Yosefina M.Watofa,M.Psi.

“Hari ini psikotest full, setelah itu masuk tahap pembuatan makalah sesuai jabatan yang dipilih. Setelah ini lapor ke Komisi ASN dan BKD. Rencananya, sekitar minggu depan baru bisa diumumkan hasilnya,” tutup Alo.

Adapun 9 jabatan yang diseleksi yakni Asisten I Bidang Pemerintahan, Kesejahteraan Rakyat dan Pembangunan, Asisten II Bidang Administrasi Umum, Asisten III Bidang Pengelolaan Asset, Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, dan Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu.  (Gusty Masan Raya)

Kawal Penerapan SIPD di Setiap OPD, Sekda Siap Bentuk Satgas

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang, drg. Aloysius Giyai, M.Kes

 

JAYAPURA (PB.COM)—Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang drg. Aloysius Giyai, M.Kes menegaskan awal tahun 2022, pihaknya akan membentuk Satuan Tugas Sistem Imformasi Pemerintah Daerah (Satgas SIPD) guna mengawal dan membimbing proses penerapan aplikasi ini di semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Bumi Okmin.

“Nanti Satgas SIPD ini dibentuk dengan dengan SK Bupati dimana saya selaku Ketua TAPD akan pimpin, anggota dari BPKAD, Bappeda dan Inspektorat Daerah. Tujuannya ialah agar tenaga-tenaga operator SIPD tiap OPD kami bimbing terus. Dan secara periodik tiga bulan sekali, kami akan memberikan penilaian bagi tiap OPD,” ujar Aloysius kepada wartawan di sela-sela Bimtek dan Pelatihan Aplikasi SIPD Penatausahaan Keuangan Daerah di Hotel Horison Abepura, Sabtu (18/12/2021).

Menurut Sekda Aloysius, pihaknya menargetkan bahwa kinerja pengelolaan keuangan daerah dan Dana Otsus tahun 2022 harus meningkat. Oleh karena itu, usai penilaian dengan sejumlah indikator nanti, ia tidak main-main untuk memberi hukuman dan penghargaan kepada OPD bersangkutan.

Sekda Aloysius Giyai saat menyerahkan buku karyanya berjudul 17 KO kepada Kepala Bappeda Pegubin, Sabtu (18/12/2021)

“OPD yang terbaik akan kami beri reward, yang paling buruk akan kami kasih punishment, tentu diawali dengan yang ringan-ringan dulu misalnya kantornya diberi label merah. Di perjalanan waktu, nanti kami akan berikan sanksi berat dengan memberikan laporan kepada Bupati. Tinggal beliau yang putuskan, langkah apa yang diambil jika OPD itu tidak bisa berubah sama sekali,” tulis penulis buku 17 KO ini.

Selain Satgas SIPD, Aloysius juga mendorong agar semua OPD siap melakukan inovasi daerah demi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kinerja tata kelola keuangan. Ia meminta mereka belajar dari Bupati yang telah menerapkan inovasi daerah yang luar biasa dengan menghadirkan energi terbaru, Universitas Okmin Papua dan pendidikan dasar berbasis budaya.

Analis Fungsional Sistem Informasi dan Dukungan Teknis Keuangan Daerah pada Direkrorat Pelaksanaan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah-Kemendagri, Andri Satriajati, ST,M.Si yang hadir sebagai pemateri mengatakan, para SDM keuangan peserta Bimtek Kabupaten Pegubin memiliki sangat antusias dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka sangat senang ketika diberi praktek langsung dan siap dibimbing.

“Harapannya, di 2022 mereka bisa mandiri untuk berlatih dan mengimplementasikan SIPD mereka bisa jalan. Dengan demikian satu sistem yang terintegrasi dari perencanaan anggaran, penatausahan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban, semuanya menjadi satu platform. Ya inilah cita-cita Presiden Jokowi juga,” kata Andri. (Gusty Masan Raya) 

Bupati Minta Polisi Tangkap Pelaku Pembakaran Sekolah di Pegubin

Bupati Spey Yan Bidana saat diwawancarai wartawan, Sabtu (18/12/2021)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Bupati Pegunungan Bintang Spey Yan Bidana, ST.M.Si meminta Kepolisian Resort Pegunungan Bintang bekerja profesional untuk segera mengungkap dan menangkap pelaku kriminal pembakaran dua sekolah yang terjadi selama Desember 2021. Adapun dua sekolah yang dibakar orang tak dikenal yakni 2 unit gedung di SMA Negeri 1 Oksibil pada Minggu (05/12/2021) dan gedung SMP Negeri di Distrik Serambakon pada Senin (13/12/2021).

“Saya berharap polisi bisa profesional menangkap pelaku. Sebenarnya mudah itu. Dan video-video yang beredar di media sosial yang diedit, itu orang bilang pelaku (pembakaran SMA Negeri 1—Red)  itu TPN/OPM, saya itu tidak percaya itu. Karena ini kejadian di Kota Oksibil. Jadi ini kembali ke kepolisian kita karena soal penegakan hukum. Mereka harus bisa tangkap agar ada efek jerannya,” kata Bupati Spey Bidana kepada wartawan, Sabtu (18/12/2021) di Jayapura.

Menurut Spey, dirinya mengaku heran, di Kota Oksibil dimana sudah ada penebalan pasukan dari aparat keamanan, tetapi kebakaran sekolah bisa terjadi, dimana dalam waktu cepat, sudah beredar pula video di media sosial yang sudah diedit.

“Kejadian ini buat masyarakat bingung. Jadi saya minta polisi harus kerja professional untuk bisa mengungkap dan menangkap pelakunya agar ada efek jera. Kalau dibiarkan ya para pelaku ini akan ulangi lagi karena tidak ditindak,” tegas Spey.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, insiden kebakaran menimpa SMA Negeri 1 Oksibil di Jalan Yapimakot Kampung Esipding Distrik Serambakon Kabupaten Pegunungan Bintang. Api menghanguskan dua 2 bangunan, terdiri dari 3 ruang kelas, 1 ruang kantor dan 1 ruang guru unit pada Minggu dini hari (05/12/2021) sekitar Pkl. 03.45. WIT.

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) drg. Aloysius Giyai, M.Kes, dihubungi wartawan saat itu meminya agar semua pihak harus hati-hati dalam menyebarkan berita ini dengan tuduhan ke pihak tertentu sebagai pelakunya. Sebab sebagai negara hukum, perlu didukung dengan bukti yang jelas agar tidak menimbulkan fitnah dan provokasi.

Sementara pada Senin (13/12/2021), sebuah sekolah SMP Negeri di Distrik Serambakon dibakar. Sama seperti kasus pembakaran SMA Negeri 1 Oksibil, Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Cahyo Sukarnito mengatakan, pelaku pembakaran adalah kelompok Kelompok Kriminal Bersenjata. (Gusty Masan Raya)

Sekda Pegubin: Terapkan Aplikasi SIPD, Pengelolaan Keuangan 2022 Harus Lebih Baik

Bupati Pegunungan Bintang, Spey Yan Bidana, ST,M.Si bersama pemateri saat pembukan Bimtek dan Pelatihan Aplikasi SIPD di Hotel Horison Abepura, Jumat (17/12/2021)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin), drg. Aloysius Giyai, M.Kes meminta ke-36 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di Bumi Okmin itu, harus memperbaiki kualitas pengelolaan keuangan daerah mulai tahun 2022 dengan wajib menerapkan aplikasi Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD) dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Untuk itu, pada Jumat-Sabtu, 17-18 Desember 2021, Pemerintah Daerah Pegubin melalui Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Pelatihan Aplikasi SIPD Penatausahaan Keuangan Daerah di Hotel Horison Abepura, Kota Jayapura.

Kegiatan dengan pemateri dari Kementerian Dalam Negeri dan Provinsi Papua ini dihadiri oleh 200 peserta terdiri dari para kepala OPD, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Kasubag  Program/Perencanaan, bendahara pengeluaran, dan tenaga teknis operator SIPD. Bupati Pegunungan Bintang, Spey Yan Bidana, ST,M.Si hadir membuka kegiatan ini.

Bupati Spey Yan Bidana didampingi Plt. Sekda Aloysius Giyai bersama pimpinan OPD saat pembukaan Bimtek dan Pelatihan Aplikasi SIPD.

“Sebenarnya kegiatan ini tak ada anggaran di APBD induk 2021. Tetapi sejak dilantik sebagai Plt. Sekda 25 Oktober 2021, dari evaluasi dan monitoring meja tentang pengelolaan keuangan daerah tahun 2021, saya melihat masih banyak OPD, terutama bagian keuangan belum paham sistem pertanggungajwaban keuangan. Kerena itu, setelah konsultasi dengan bupati, kami gelar Bimtek ini di APBD Perubahan 2021,” kata Aloysius kepada wartawan.

Menurut Aloysius, banyak staf bagian keuangan di Pegubin yang belum paham regulasi keuangan yang sangat beresiko pada buruknya pengelolaan keuangan daerah. Misalnya istilah Surat Perintah Pembayaran Ganti Uang (SPP GU), SPP Tambahan Uang (TU), dan SPP Uang Persediaan (UP) dalam sistem administrasi keuangan daerah.

“Ini kaitan dengan membedakan pengelolaan keuangan rutin swakelola dan LS atau dipihaketigakan. Misalnya TU kan satu bulan berjalan hatus di SPJ-kan. Tapi saya lihat di Pegunungan Bintang, TU ini tumpang tindih. Kondisi ini sangat rawan dan salah dalam penatausahaan keuangan daerah. Makanya saya inisiatif buat Bimtek ini diikuti para kepala OPD, Kasubag Keuangan (PPK), dan bendahara-bendahara pengeluaran,” tutur Aloysius.

Selain itu, lanjutnya, Bimtek ini juga digelar untuk meng-update regulasi tentang keuangan daerah yang terus berubah, baik dari Kementerian Keuangan maupun Kementerian Dalam Negeri. Saat ini, seluruh pemerintah daerah yang dulu dengan aplikasi SIMDA, kini wajib menggunakan aplikasi SIPD.

Para peserta yang hadir.

“Aplikasi SIPD ini modelnya beda. Jadi semua pejabat di daerah, terutama pejabat keuangan maupun bendahara, wajib tahu dan mampu mengaplikasikan. Makanya, saya hadirkan semua peserta dari pimpinan OPD sampai bendahara dan operator SIPD ini, dengan tujuan bisa include antara perencanaan keuangan, pelaksanaan, hingga pertanggung jawaban keuangan,” tegas mantan Direktur RSUD Jayapura ini.

2022 Harus Dapat Reward

Aloysius menjelaskan, mulai tahun 2022, semua kabupaten/kota di Papua akan berlomba-lomba meningkatkan kinerja keuangannya. Hal ini terkait Undang-Undang Nomor  2 Tahun 2021 sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 21  Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) Papua, dimana turunannya  PP 106 yang mengatur tentang pembagian kewenangan antara provinsi dan kabupaten, dan PP 107 tentang pembagian alokasi dana Otsus yang ditransfer dari pusat ke kabupaten/kota.

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang, drg. Aloysius Giyai, M.Kes

“Pemerintah kabupaten/kota mungkin hari ini bangga, bahwa mulai 2022 ada kenaikan anggaran Otsus yang signifikan dibandingkan pada Otsus jilid I. Tetapi kenaikan anggaran ini, di dalamnya juga menanggung tanggung jawab yang besar. Sebab ke depan akan ditingkatkan juga sistem audit dan evaluasi yang ketat,” urainya.

Ia mengatakan, bagi pemerintah daerah di kabupaten/kota di Papua yang tidak mampu mengelola anggaran Otsus di tahun anggaran 2022, maka daerah bersangkutan akan diberi sanksi tidak akan mendapat dana Otsus di tahun 2023 dari Pemerintah Pusat dan hanya menggunakan dana SILPA.

“Sanksi ini tentu sangat berat. Tetapi bagi baiknya ialah ada reward. Bagi kabupaten/kota yang mampu menyerap dana dengan sistem aplikasi SIPD dan menghasilkan kinerja keuangan yang bagus selama tahun 2022, maka dana Otsus-nya di tahun 2023 akan dinaikkan. Karena itu, sebagai Ketua TAPD,  wajib hukumnya seluruh jajaran saya, mengetahui, menguasai, mengaplikasikan SIPD dan dapat mempertanggung jawabkan keuangan daerah di setiap OPD. Kita di Pegubin harus mampu dapat reward ini,” tuturnya.

Plt. Sekda Aloysius saat diwawancarai wartawan.

Aloysius yang dilantik menjadi Plt. Sekda Pegubin sejak 25 Oktober itu telah bertekad untuk membenahi sistem birokrasi dan keuangan yang carut marut dari pemerintahan sebelumnya, dan bertekad untuk meraih prestasi.

“Tidak muluk-muluk, saya target tahun 2023, kita target harus raih WTP, LAKIP dan SAKIP juga harus terbaik. Kita punya seorang kepala daerah yang visioner, harus kita dukung dengan kinerja yang benar,” tegas Aloysius.

Sementara itu Plt. Kepala BPKAD Pegunungan Bintang,Martinus Agapa mengatakan, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Pemendagri) No 77 Tahun 2020 tentang Sistem Pengelolaan Keuangan Daerah dan regulasi turunannya telah mewajibkan penggunaan aplikasi SIPD bagi pengelolaan keuangan di semua daerah. Oleh karena itu, mau tidak mau, mulai 2022 aplikasi ini harus dijalankan di Pegubin.

Plt Kepala BPKAD Pegunungan Bintang, Martinus Agapa.

“Jadi Bimtek kali ini kami fokus pada aplikasi SIPD. Selama ini, penerapan SIPD di Pegunungan Bintang terkendala oleh dua faktor. Pertama, masalah jaringan internet yang masih sangat lambat di Kota Oksibil. Kedua, soal SDM kami di bagian keuangan di seluruh OPD yang memang belum menguasai aplikasi ini. Kami bersyukur, saat ini sudah punya Sekda Aloysius yang luar biasa, maka kami siap benahi betul-betul kemampuan orang keuangan di semua OPD agar mereka mengerti dan menggunakan aplikasi SIPD iniq,” kata Agapa.

Ia berharap, dengan Bimtek SIPD ini, baik kepala OPD, PPK maupun para bendahara benar-benar memahami ilmu yang diberikan para pemateri sehingga saat kembali di Pegunungan Bintang bisa diterapkan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pertanggungjawaban keuangan di setiap OPD.

“Intinya, dengan Bimtek ini, tahun depan, mau tidak mau, suka tidak suka, kami siap terapkan aplikasi SIPD di Pegunungan Bintang,” tegas Agapa. (Gusty Masan Raya)

Buka Lomba Yospan, Aloysius Giyai Apresiasi Komunitas Nitmeke Ajak Milenial Cinta Budayanya

Pembina Nitmeke Adventure Jayapura, drg. Aloysius Giyai, M.Kes bersama Ketua Harian Bartho Taniauw dan Ketua Pantia Nitmeke Yospan Competition saat membuka kegiatan lomba, Jumat (17/12/2021) di Aulia Beach, Holtekamp, Kota Jayapura

 

JAYAPURA (PB.COM)Komunitas Motor Nitmeke Adventure Jayapura, Papua menggelar lomba tarian Yosim Pancar (Yospan) dalam rangka menyongsong hari ulang tahunnya dalam tajuk Nitmeke Yosim Pancar Competition. Komunitas motor yang dipimpin oleh Ketua Umum Drs. Muhammad  Rusdianto Abu, M.Si dan Ketua Harian Bartho Taniauw, ST ini berulang tahun ke-2 pada 4 Januari 2022.

Sebanyak 22 peserta dari aneka grup tari yang berasal dari Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Keerom, ikut dalam kompetisi ini yang digelar di Aulia Beach, Pantai Holtekamp, Kota Jayapura, Jumat (17/12/2021).

Pembina sekaligus Penasihat Nitmeke Adventure Jayapura, drg. Aloysius Giyai, M.Kes hadir membuka kompetisi ini. Dalam sambutannya, ia sangat mengapresiasi giat budaya yang digelar Nitmeke karena bisa meningkatkan rasa cinta kaum milenial di wilayah Tabi akan budayanya sendiri.

Pembina Nitmeke Adventure Jayapura, drg. Aloysius Giyai, M.Kes saat memberikan sambutan.

“Yospan adalah bagian dari budaya, lambang identitas dan martabat kita orang Papua. Saya bangga dengan inisiatif luar biasa dari Komunitas Nitmeke menggelar kompetisi ini. Even-even seperti ini yang kita butuhkan agar generasi milenial di Papua diarahkan untuk melakukan aktivitas positif,” kata Aloysius.

Menurut Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang ini, tarian Yospan juga merupakan bagian dari Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) KORMI, dimana dirinya saat ini masih dipercayakan sebagai Ketua Harian KORMI Provinsi Papua.

“Jadi dalam rangka pengembangan olahraga rekreasi masyarakat dan budaya setempat, kami akan selalu dukung dan dorong terus even lomba Yospan seperti ini. Sekali lagi saya berterima kasih kepada pengurus Komunitas Motor Nitmeke, baik Ketua Umum Pak Rusdianto, Ketua Harian Bartho Taniauw dan Ketua Panitia Felix Dawir. Kalian luar biasa. Teruslah melakukan hal-hal positif bagi anak muda Papua,” tegasnya.

Salah satu kelompok peserta Nitmeke Yospan Competition saat tampil.

Pada kesempatan itu, Aloysius juga memberikan sumbangan dana kepada panitia dan uang pembinaan bagi 22 kelompok peserta Yospan sebesar Rp 50 juta.

Ketua Panitia Nitmeke Yosim Pancar Competition, Marthen Felix Dawir berterima kasih kepada Pembina Nitmeke Aloysius Giyai yang telah memberikan sumbangan dana dan kesediaan waktu membuka kegiatan ini.

Salah satu kelompok peserta Nitmeke Yospan Competition saat tampil.

“Sebagai komunitas motor, kami juga peduli terhadap budaya. Ini cara kami untuk meningkatkan semangat dan rasa cinta kaum muda terhadap Yospan. Dan kami bersyukur, hari ini Pak Alo sangat mendukung kami dalam acara ini,” kata Felix.

Menurutnya, sebanyak 22 peserta lomba Yospan memperebutkan hadiah berupa uang pembinaan dengan total mencapai Rp 28,5 juta untuk 6 kategori.

Adapun Ketua Dewan Juri dalam kompetisi ini yakni Albert Yunaweri, didampingi Sekretaris Ibu Min Waimuri, dan anggota Ibu Ani Yawan.

Sekedar diketahui, Yospan merupakan tarian jenis pergaulan masyarakat di Tanah Papua yang sering dimainkan oleh muda mudi sebagai bentuk persahabatan. Yospan yang merupakan lepanjangan dari Yosim dan Pancar adalah tari tradisional yang berasal dari dua daerah di Papua, yakni Biak dan Yapen-Waropen. (Gusty Masan Raya)

Benahi SDM Papua, Aloysius Giyai Tawarkan 10 Kebijakan Ini Ke Bappenas

Sekda Pegunungan Bintang, drg. Aloysius Giyai, M.Kes

 

JAYAPURA (PB.COM)—Tokoh kesehatan Papua yang juga Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang, drg. Aloysius Giyai, M.Kes mengatakan dalam upaya menyiapkan Sumber Daya  Manusia (SDM) di Provinsi Papua dan Papua Barat 20 tahun ke depan, Pemerintah Pusat melalui  Bappenas bersama seluruh pemerintah daerah di provinsi dan kabupaten/kota harus menjalankan sejumlah kebijakan urgen di bidang pendidikan dan kesehatan.

“Jika Pemerintah Pusat benar-benar serius dan mau belajar dari pelaksanaan UU Otsus Jilid I selama 20 tahun, maka untuk menyiapkan SDM Papua, ini 10 poin yang ingin kami tawarkan kepada pihak Bappenas,” kata Aloysius saat tampil sebagai salah satu pembicara pada konferensi secara virtual yang digelar oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas bertema Memandang Papua 20 Tahun Ke Depan sebagai upaya menyusun Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua (RIPPP) 2022-2041, Kamis (09/12/2021).

Adapun kesepuluh kebijakan yang dianggapnya sebagai isu krusial dan wajib diterapkan dalam implementasi Otsus Jilid II ini. Pertama,  menerapkan sistem pelayanan kesehatan bergerak (mobile service) pada kampung-kampung terpencil di seluruh Papua. Puskesmas hanya sebagai pusat administrasi saja.

“Saat menjadi Kepala Dinas Kesehatan Papua, kami pernah coba dengan pelayan bergerak Satgas Medis Pelayanan Kaki telanjang dan terapung. Ini sangat membantu masyarakat Papua di wilayah yang susah dijangkau,” kata Aloysius.

Kedua,  penguatan pada kegiatan Program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dimana dijadikan program wajib seluruh kabupaten dan dibuat dalam Peraturan Daerah Khusus (Perdasus).

Ketiga, pengembangan RSUD Jayapura sebagai Rumah Sakit Kawasan Indonesia Timur dan Kawasan negara-negara Melanesia “Pasifik Selatan.”

Keempat, penguatan rumah sakit regional pada lima (5) wilayah adat, yakni RSUD Abepura, RSUD Biak, RSUD Merauke, RSUD Nabire, RSUD Wamena, RSUD Yowari dan RSUD Timika.

Kelima, perekrutan dan pengangkatan tenaga medis serta tenaga kesehatan lainnya di Papua secara khusus guna memenuhi kekurangan Sumber Daya Manusia Tenaga Kesehatan di Provinsi Papua. Untuk itu, perlunya indikator khusus dalam proses rekrutmen ini  di bawah prinsi affirmative action.

Aloysius saat mengikuti Konferensi yang digelar Bappenas secara virtual dari Jayapura, Papua.

Keenam, penguatan pada institusi pendidikan kedokteran dan pendidikan tenaga Kesehatan di Provinsi Papua, baik di Fakultas Kedokteran Uncen, Fakultas Kesehatan Masyarakat Uncen dan Poltekes Jayapura. Dimana dilakukan seleksi yang ketat dari setiap kabupaten dan disiapkan biaya pendidikan setiap tahun dalam sebuah kontrak, dimana usai wisuda, mereka akan kembali mengabdi di kabupaten itu.

Ketujuh, harus ada jatah kuota Dokter Orang Asli Papua untuk melanjutkan Pendidikan PPDS/PPDGS di Lembaga Pendidikan Tinggi yang menyelenggarakan Pendidikan Specialis Seluruh Indonesia.

Kedelapan, pengembangan dan penguatan obat-obat tradisional/herbal di Provinsi Papua melalui Griya Sehat yang dikembangkan oleh anggota DPR Papua, Jhon R. Gobai bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Papua.

Kesembilan, harus didirikan rumah sakit khusus seperti Tropical Discase, Rumah Sakit Mata, dan Rumah Sakit Tumbuh Kembang Anak di sejumlah titik di Papua.

Kesepuluh,  seluruh Orang Papua (penduduk yang ada di Provinsi Papua) wajib dimasukkan dalam PBI-APBN dalam Jaminan Kesehatan di JKN-KIS. Sementara jamina kesehatan daerah seperti Kartu Papua Sehat (KPS) tetap ada sebagai komplementer untuk membiayai jenis-jenis pembiayaan yang tidak ada dalam paket JKN-KIS yang diselenggarakan BPJS.

“Kondisi yang kita alami selama 20 tahun belakangan ialah banyak masyarakat Papua belum menikmati JKN-KIS karena umumnya tak punya NIK karena belum ada KTP Elektronik,” urainya.

Belajar Program Para Bupati

Menurut Aloysius, dalam upaya meningkatkan SDM Papua melalui pendidikan dan kesehatan, banyak contoh program dari sejumlah bupati di Papua yang bisa ditiru dan dikembangkan oleh bupati lain di seluruh Papua.

Misalnya, Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang sukses dilakukan Bupati Usman G. Wanimbo di Kabupaten Tolikara sejak 2014 dengan memberikan makanan bergizi kepada ibu hamil hingga anak usia 2 tahun.

“Kemudian, saat mereka masuk TK, kita bisa tiru program dari Bupati Lanny Jaya, Befa Yigibalom, yang mewajibkan semua OPD memiliki PAUD binaan,” kata mantan Direktur RSUD Jayapura ini.

Di tingkat SD dan SLTP, kata Aloysius, program pendidikan berbasis budaya yang sedang dikembangkan oleh Bupati Pegunungan Bintang, Spey Yan Bidana bisa ditiru. Model pendidikan berbasis budaya yang diberi nama Pengkajian Budaya Papua dan Modernisasi (PBPM) kerjasama dengan Yayasan Alirena ini membuat putra-putri Papua cerdas dan siap memasuki globalisasi tetapi tetap berakar dalam lingkungan budayanya.

Aloysius Giyai bersama anak-anak Pegunungan Bintang di Kampung Bulangkop, Distrik Okaom.

Sementara saat masuk SMA/SMK, pemerintah daerah di seluruh Papua harus kembali kepada model pendidikan misionaris yang pendidikan berpola asrama, bekerjasama dengan sejumlah yayasan pendidikan keagamaan seperyi YPPK, YPK, PGI dan Advent.

“Nah kalau ke Perguruan Tinggi, kami dari Pegunungan Bintang telah beri contoh dengan hadirkan Universitas Okmin Papua. Tahun ini sudah mulai dengan 5 progam studi dan 615 mahasiswa perdana, dimana 8 orang adalah warga PNG. Ada satu prodi yang unik adalah Antropologi Melanesia, dimana mahasiswa belajar khusus tentang kehidupan suku, budayanya sendiri,” tutur Aloysius. (Gusty Masan Raya)

Pemda Pegubin Masih Tunggu Hasil Penyelidikan Polisi Terkait Kebakaran SMA Negeri 1 Oksibil

Plt. Sekda Pegunungan Bintang, Aloysius Giyai ketika melihat lokasi TKP kebakaran SMA Negeri 1 Oksibil, Minggu pagi (05/12/2021)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Insiden kebakaran menimpa SMA Negeri 1 Oksibil di Jalan Yapimakot Kampung Esipding Distrik Serambakon Kabupaten Pegunungan Bintang. Api menghanguskan 2 unit bangunan, terdiri dari 3 ruang kelas, 1 ruang kantor dan 1 ruang guru pada Minggu dini hari (05/12/2021) sekitar Pkl. 03.45. WIT.

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) drg. Aloysius Giyai, M.Kes, dihubungi wartawan mengatakan, pihaknya hingga kini belum mengetahui persis, apa yang menjadi penyebab terbakarnya gedung sekolah tersebut.

“Saya baru saja pulang dari TKP, dan memang ada kejanggalan. Apakah terbakar atau dibakar, kita masih tunggu hasil penyelidikan polisi. Kalau terbakar, di situ kan listrik tidak menyala. Jadi korsleting listrik tidak mungkin. Kita harapkan, polisi secepatnya mengungkap apa penyebabnya, kalau sengaja dibakar, siapa pelaku dan motifnya,” kata Aloysius melalui sambungan telponnya dari Kota Oksibi, Minggu siang.

Menurut Aloysius, semua pihak harus hati-hati dalam menyebarkan berita ini dengan tuduhan ke pihak tertentu sebagai pelakunya. Sebab sebagai negara hukum, perlu didukung dengan bukti yang jelas agar tidak menimbulkan fitnah dan provokasi. Ia juga meminta seluruh masyarakat Pegubin, khususnya di Kota Oksibil dan sekitarnya untuk tetap menjaga keamanan bersama.

“Jika memang ini adalah perbuatan oknum tertentu, kami sangat sesalkan. Sebab ini terjadi di tengah-tengah gencarnya Bupati Spey Bidana meningkatkan SDM Pegunungan Bintang dengan hadirkan perguruan tinggi dan sekolah bermutu. Malah sarana pendidikan dan kesehatan jadi sasaran,” tegasnya.

 

Api melahap bangunan SMA Negeri 1 Oksibil dan sempat direkam warga di sekitar TKP

Sebagaimana dalam rilis kronologi kejadian yang diterima redaksi papuabangkit.com melalui pesan whatsapp, usai menerima laporan warga, Minggu pagi Pkl 06.15.WIT, Wakapolres Pegunungan Bintang Kompol Anton Ampang bersama sejumlah personel Polres dan Personel Brimob, langsung turun ke lokasi mengecek Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Jalan Yapimakot Kampung Esipding itu.

Aparat kepolisian langsung melakukan olah TKP, namun hingga kini belum bisa memastikan penyebab kejadian kebakaran itu, apakah sengaja dibakar oleh orang ataukah akibat kelalaian.

Sebab belum adanya Saksi yang melihat kejadian dan tidak ditemukan alat bukti di TKP Kebakaran tersebut dan dari Personel Sat Reskrim Polres Pegunungan Bintang masih melakukan Penyelidikan lebih lanjut. (Gusty Masan Raya)

Pastor John Jonga: Dokumentasi dan Pelaporan UP2KP Bisa Jadi Contoh

Pastor John Jonga, Pr, saat bertemu dengan staf UP2P di kantor UP2KP, Jalan Abepura Kotaraja, Kamis (25/11/2021).

 

JAYAPURA (PB.COM)—Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, Pastor John Jonga, Pr, mengunjungi Kantor Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) di Jalan Raya Abepura Kotaraja Luar, Kamis (25/11/2021).

Pada kesempatan itu, Pastor John menyampaikan apresiasi atas kinerja UP2KP di bawah pimpinan drg. Aloysius Giyai, M.Kes yang selama 8 tahun bekerja mengawal pelayanan kesehatan bagi Orang Asli Papua (OAP).

Secara khusus, pemuka agama Kotolik yang sekarang bertugas di Paroki Gembala Baik Abepura Stasi Koya Tengah ini, memuji sistem pendokumentasian dan pelaporan kegiatan pelayanan UP2KP yang telah dibukukan dalam dua buku. Yaitu buku Melawan Badai Kepunahan (Papua Pustaka Raya, 2015) maupun dalam buku 5 Tahun UP2KP Berkarya: Kawal, Respon & Tindak Cepat Jerit Sakit Rakyat Papua (Papua Pustaka Raya, 2018).

“Informasi berisi kegiatan advokasi yang didokumentasikan seperti ini, baik itu bidang kesehatan maupun pendidikan, sangat dibutuhkan bagi pengambil kebijakan, baik di tingkat daerah maupun Pusat. Ini bisa jadi contoh bagi sektor lain seperti pendidikan. Wartawan yang di lembaga ini memang harus beda dan terus bekerja seperti ini,” kata Pastor John saat dihubungi papuabangkit.com via telepon selulernya.

Salah satu dokumentasi yang ditulis di kedua buku itu ialah advokasi UP2KP bersama Pastor John di Distrik Itlay Hisage, Kabupaten Jayawijaya pada 8 Juni 2014. Dimana tim menemukan puluhan obat kadaluarsa di Puskesmas Itlay Hisage.

“Saya waktu itu ikut menemani rombongan UP2KP ke sana. Dan Puji Tuhan, dampak dari kunjungan itu besar. Pejabat Dinas Kesehatan yang kerja tidak maksimal diganti. Kemudian, saat ini jalan masuk ke Distrik Itlay Hisage sudah ada, Puskesmas juga sudah bagus. Bahkan, di Puskesmas juga sudah ada dokter yang tinggal di situ,” kata pastor yang pernah menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award 2009 ini.

Menurut Pastor John, data bagi advokasi di bidang apapun sangat penting sebagai dasar pembangunan. Oleh karena itu, ia berharap ke depan UP2KP kembali secara rutin melakukan kunjungan ke kampung-kampung di pedalaman Papua agar bisa memantau secara langsung kondisi pelayanan kesehatan di sana.

Tak perlu jauh-jauh, katanya, ia meminta lembaga pengawal kesehatan ini sesekali berkunjung ke sejumlah Pustu dan Puskesmas di Kabupaten Keerom, yang menurutnya masih sangat memprihatinkan.

“Turun dan memastikan, bagaimana kinerja para tenaga kesehatan, bagaimana makan minum mereka, bagaimana tempat tinggal mereka. Kadang ada rumah kesehatan tapi mereka tidak mau tinggal. Ini bisa dibuat laporan yang bagus jadi model advokasi. Karena data kita akurat, kita bisa lebih dipercaya. Itlay Hisage sudah menjadi contohnya bahwa berkat laporan akurat kita, ada perubahan di sana,” tegasnya. (Gusty Masan Raya)